ahklak

Diposkan oleh | Rilis Hari Tuesday, 20 November 2018 | Anime

SEE ALL EPISODES



-Kitab/Kitabullah merupakan kitab yang difirmankan oleh Allah melalui para Rasul Allah SWt. Kitabullah sendiri ada 4 sesuai masanya, yang

pertama Zabur, kemudian Taurat, Injil, dan terakhir Al-Quran.



Berikut pengertian kitab menurut bahasa dan istilah.



Pengertian kitab menurut

Bahasa (Etimologi).

Pengertian kitab secara Bahasa yaitu, bahwa kitab berasal dari bahasa arab yang berarti tulisan.



Pengertian kitab

menurut Istilah (Terminologi). Pengertian kitab secara Istilah yaitu, bahwa kitab ialah tulisan wahyu yang tertulis pada lembaran-

lembaran yang terkumpul menjadi satu dalam bentuk buku.



-Jawaban

Pendahuluan

Kitab" Allah disebut juga kitab samawi, yang artinya kitab yang diturunkan dari langit, beriman pada kitab" Allah

termasuk dalam rukun iman yang ke-3.



Kitab" Allah ada 4, sebagai pedoman hidup umat manusia, 3 kitab diantaranya hanya diperuntukkan untuk

sekelompok masyarakat ayau satu kaum saja, namun 1 kitab yaitu kitan yang terahir unttuk rahmatan lil alamin (untuk semua umat manusia)





Pembahasan

4 kitab dan Rosul penerimanya, yaitu



1) taurat diturunkan kepada Nabi Musa As.



sebagaimana firman Allah وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ



artinya :

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa,



2) Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi Daud

As



وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِمَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا



artinya: Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi.

Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud.



3) Kitab Injil

(kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa As)



وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ



artinya : dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat)

kepada Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus.



4). Kitab Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad

SAW



نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ



artinya : Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab

yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,



Kesimpulan

1) kitab taurat diturunkan kepada Nabi Musa As



2) kitab zabur

diturunkan kepada Nabi Daud As



3) kitab Injil diturunkan kepada Nabi Isa As



4) kitab al-qur'an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW





-B. Kitab-Kitab Allah

1. Kitab Taurat

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Musa as sebagai pedoman dan petunjuk bagi Bani Israel. Sesuai firman Allah swt yang artinya: “Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku” (QS. Al-Isra’ [17]: 2)

Adapun isi kandungan kitab Taurat meliputi hal-hal berikut :

1. Kewajiban meyakini keesaan Allah

2. Larangan menyembah berhala

3. Larangan menyebut nama Allah dengan sia-sia

4. Supaya mensucikan hari sabtu (sabat)

5. Menghormati kedua orang tua

6. Larangan membunuh sesama manusia tanpa alasan yang benar

7. Larangan berbuat zina

8. Larangan mencuri

9. Larangan menjadi saksi palsu

10. Larangan mengambil hak orang lain



2. Kitab Zabur

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Daud as sebagai pedoman dan petunjuk bagi umatnya. Firman Allah



Artinya: “Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. Al-Isra’ [17]: 55)



Kitab Zabur (Mazmur) berisi kumpulan nyanyian dan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Selain itu berisi zikir, doa, nasihat, dan kata-kata hikmah. Menurut orang-orang Yahudi dan Nasrani, kitab Zabur sekarang ada pada Perjanjian Lama yang terdiri atas 150 pasal.



3. Kitab Injil

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Isa as sebagai petunjuk dan tuntunan bagi Bani Israel. Allah swt berfirman



Artinya: “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah [5]: 46



Kitab Injil memuat beberapa ajaran pokok, antara lain:

a. Perintah agar kembali kepada tauhid yang murni

b. Ajaran yang menyempurnakan kitab Taurat

c. Ajaran agar hidup sederhana dan menjauhi sifat tamak (rakus)

d. Pembenaran terhadap kitab-kitab yang datang sebelumnya



4. Kitab al-Qur’an

Kitab suci al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk dijadikan petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia, bukan hanya untuk bangsa Arab. Sebagaimana firman Allah



Artinya: “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan [25]: 1)

Secara keseluruhan, isi al-Qur’an meliputi hal-hal berikut:

a. Pembahasan mengenai prinsip-prinsip akidah (keimanan)

b. Pembahasan yang mengangkat prinsip-prinsip ibadah

c. Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip syariat

Kedudukan-kedudukan al-Qur’an antara lain:

a. Sebagai wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw

b. Sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw

c. Sebagai pedoman hidup manusia agar tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat

d. Sebagai sumber dari segala sumber hukum Islam

C. Fungsi dan Hikmah Iman Kepada Kitab Allah

1. Fungsi Iman kepada Kitab-kitab Allah

a. Untuk meningkatkan kualitas kehidupan pribadi

b. Untuk membangun kehidupan bermasyarakat

c. Untuk menjalin kerukunan dalam hidup berbangsa dan bernegara



2. Hikmah Iman kepada Kitab-kitab Allah

a. Meningkatkan keimanan kepada Allah swt yang telah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalahnya.

b. Hidup manusia menjadi tertata karena adanya hukum yang bersumber pada kitab suci

c. Termotivasi untuk beribadah dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama, seperti yang tertuang dalam kitab suci

d. Menumbuhkan sikap optimis karena telah dikaruniai pedoman hidup dari Allah untuk meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat

e. Terjaga ketakwaannya dengan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya





D. Penerapan Hikmah Iman terhadap Kitab-kitab Suci

1. Beriman kepada kitab-kitab sebelum al-Qur’an. Caranya adalah:

a. Meyakini kebenaran yang terkandung dalam kitab-kitab Allah

b. Meyakini bahwa kitab-kitab itu benar-benar wahyu Allah bukan karangan para nabi dan rasul

2. Beriman kepada al-Qur’an. Caranya adalah:

a. Meyakini bahwa al-Qur’an benar-benar wahyu Allah, bukan karangan Nabi Muhammad saw

b. Meyakini bahwa isi al-Qur’an dijamin kebenarannya, tanpa ada keraguan sedikit pun

c. Mempelajari, memahami, dan menghayati isi kandungan al-Qur’an

d. Mengamalkan ajaran al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari
Dalil Naqli Iman Kepada Kitab Allah

#1. Q.S Surat An-Nisa ayat 136

Q.S An Nisa Ayat 136

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya.”



#2. Q.S Surat Ali Imran Ayat Ali Imran ayat 3-4

Q.S Al Imran Ayat 3 dan 4

Artinya :

“Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil. Sebelum (Al-Qur’an) menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan.”



#3. QS. Faathir ayat 31

Qs Faathir Ayat 31

Artinya :

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”


#4. Q.S Al-Maidah ayat 48

QS Al Maidah Ayat 48


Artinya :

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”




#5. Q.S Al-Baqarah ayat 4

QS Al-Baqarah Ayat 4

Artinya:

“Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat”.




Dalil Aqli Iman Kepada Kitab Allah

Salah satu contoh dari dalil aqli iman ini :

#1. Allah SWT tahu bahwa manusia merupakan makhluk yang lemah. Allah SWT adalah Tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang, sehingga Allah berkehendak memberi bimbingan kepada manusia supaya menjadi makhkul yang paling ulai di sisi-nya lewat kitab suci lengkap dengan contoh tauladan yang baik berupa seorang Nabi dan Rasul.

Dengan mempelajari dalil iman kepada kitab Allah semoga membantu teman-teman dalam mempelajari materi tersebut atau pun mengerjakan tugas, tentunya juga ilmu ini semoga menjadikan kita bertambah keimanannya Aamin.

1.

PENGERTIAN IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

2.




Iman kepada kitab-kitab Allah ialah menyakini bahwa Allah SWT menurunkan beberapa kitab kepada beberapa Rasul-Nya melalui malaikat Jibril untuk dijadikan pedoman hidup manusia, guna mencapai keselamatan hidup manusia di dunia dan akhirat.

Di dalam Al Quran iman kepada kitab-kitab Allah ini dapat kita fahami dari firman Allah antara lain dalam surat Al Baqarah ayat 213 yang berbunyi :



























Artinya :

… dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu, melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendakinya kepada jalan yang lurus. (Al Baqoroh : 213)




1.

KITAB DAN SUHUF

2.




Kitab ialah firman Allah atau wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi atau Rasul yang tersusun dan tertulis dalam sebuah kitab.

Suhuf adalah lembaran-lembaran yang belum tersusun atau tulisan firman Allah yang masih terpisah-pisah.

Seperti suhuf Nabi Ibrahim, dan suhuf Nabi Musa, sebagaimana firman Allah yang berbunyi :







Artinya :

Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam suhuf-suhuf terdahulu yaitu suhuf-suhuf Ibrahim dan Musa. (QS. Al A'la : 18 – 19 ).
Jumlah Suhuf ialah

50 suhuf (lembaran) diturunkan ke Nabi Syis As.

30 suhuf kepada Nabi Idris As.

10 suhuf kepada Nabi Ibrahim As.

10 suhuf sebelum Taurat kepada Nabi Musa As.




Para Nabi dan Rasul yang menerima kitab-kitan Allah SWT.

1.

Nabi Musa As, menerima Kitab Taurat

2.

Kitab Taurat disebutkan dalam firman Allah SWT yang berbunyi :

3.



4.




5.

Artinya :

6.

Sesungguhnya Aku telah menurunkan kepada Nabi Musa kitab Taurat yang mengandung petunjuk bimbingan kepada kebenaran dan cahaya.

7.




8.

9.

Nabi Daud As, menerima Kitab Zabur.

10.

Firman Allah dalam Alquran menjelaskan

11.



12.




13.

Artinya :

14.

Aku telah memberikan kitab zabur kepada Daud.

15.




16.

17.

Nabi Isa As, menerima Kitab Injil.

18.

Firman Allah dalam Alquran menjelaskan

19.



20.




21.

Artinya

22.

.... Dan Kami telah memberikan kepadanya (Nabi Isa) Injil, sedang didalamnya (terdapat) petunjuk dan cahaya (yang menerangi) ...".

23.

24.

Nabi Muhammad SAW, menerima Kitab Alquran.

25.

Firman Allah dalam Alquran menjelaskan

26.




27.



28.




29.




30.




31.




32.




33.

(ال عمران : 2-3)

34.

Artinya :

35.

"Allah, Tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri. Dia menurunkan kitab (Alquran) kepadamu dengan sebenar-benarnya, membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, dan menurukan kitab Taurat dan Injil. Sebelum (al Qur'an) menjadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al Furqon .... (QS. Ali Imron : 1-3)

36.

Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul, baik yang terhimpun dalam suhuf maupun kitab merupakan satu kesatuan yang bulat terus menerus dari satu nabi ke nabi yang lain, untuk menuju kearah kesempurnaan Agama Allah SWT yang satu yaitu Agama Islam.

37.

Semua kitab suci mempunyai pokok ajaran yang sama yaitu mengajarkan tentang ke Esaan Allah dalam dzat dan sifatnya. Juga dalam kitab tersebut memuat tentang kebahagiaan yang kekal bagi hamba yang beriman dan taqwa kepada Nya serta ancaman siksa neraka bagi yang mengingkarinya.

38.




39.




40.




41.




42.

KANDUNGAN KITAB ALLAH

Adapun kandungan kitab Allah yang empat itu adalah :

1.

Kitab Taurat

2.

Kandungan Kitab Taurat adalah :

3.

1.

Kewajiban menyakini keesaaan Allah.

2.

3.

Larangan menyembah berhala

4.

5.

Larangan menyebut nama Allah dengan sia-sia

6.

7.

Supaya mensucikan hari Sabtu (Sabat)

8.

9.

Menghormati kedua orang tua

10.

11.

Larangan membunuh sesama manusia tanpa alasan yang benar

12.

13.

Larangan berbuat zina

14.

15.

Larangan mencuri

16.

17.

Larangan menjadi saksi palsu

18.

19.

Larangan mencuri Larangan mengambil hak orang lain.

20.

Seluruh isi kitab ini kemudian dinamakan Sepuluh perintah Allah atau the ten commandemen.

1.

Kitab Zabur

2.

Kandungan Kitab Zabur adalah kumpulan nyanyian dan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang telah diberikan. Juga berisi dzikir, doa, nasehat dan kata-kata hikmah.

3.

4.

Kitab Injil

5.

Kitab Injil memuat beberapa ajaran pokok antara lain :

6.

1.

Perintah agar kembali kepada tauhid yang murni.

2.

3.

Ajaran yang menyempurnakan kitab Taurat.

4.

5.

Ajaran hidup sederhana dan menjauhi sifat tamak.

6.

7.

Pembenaran terhadap kitab-kitab yang terdahulu.

8.

7.

Kitab Al Qur'an

8.

Kandungan Al Qur'an secara global adalah :

1.

Tauhid yakni ajaran tentang keimanan kepada Allah SWT.

2.

3.

Ibadah yakni hubungan seorang hamba kepada kholiqnya.

4.

5.

Akhlak yakni hubungan antar sesama manusia.

6.

7.

Hukum yakni ajaran mengenai cara mengatur hubungan seseorang dengan orang lain sehingga kehidupan menjadi teratur.

8.

9.

Mu'amalah yakni mengatur tata cara hubungan manusia dengan manusia dan yang lainnya.

10.

11.

Sejarah umat manusia di masa lalu, untuk dijadikan pelajaran, karena kehidupan masa lalu itu terulang pada masa kita.

12.
















1.

FUNGSI IMAN KEPADA KITAB ALLAH

2.




1.

Dalam kehidupan perlu pedoman yang lebih tinggi dari hasil karya manusia.

2.

Manusia diciptakan oleh Allah SWT ada yang mempunyai sifat sombong, hal ini dapat kita periksa dari sejarah Umat nabi-nabi sebelum nabi Muhammad SAW, misalnya betapa sombongnya umat Nabi Nuh AS, sehingga akhirnya ditenggelamkan oleh Allah SWT. Apalagi pada waktu sekarang di mana manusia sudah menguasai teknologi tinggi seperti membuat satelit di angkasa luar, membuat senjata nuklir dsb. Dalam segala bidang, kemajuan teknologi semakin mapan dan mengagumkan. Kemajuan manusia melalui IPTEK yang dimilikinya jika tidak dilandasi ajaran agama akan menimbulkan kerusakan di muka bumi. Namun sebaliknya dengan berpedoman kepada tuntunan atau pedoman dari Allah SWT yang Maha Esa, maka IPTEK tersebut akan membawa kemaslahatan bagi manusia. Kemajuan teknologi itu tidak mampu menandingi ilmu Allah misalnya tentang roh. Sampai saat ini belum ada yang mampu membuat roh, bahkan menjelaskan apa hakikat roh itu sendiri belum terjawab oleh manusia.

3.

Di dalam kitab suci Al Qur'an Allah berfirman pada surat Al Isra : 85

4.



5.




6.




7.




8.

Artinya :

9.

Dan mereka akan bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah : "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".

10.

Ayat ini memberi penjelasan betapa luasnya ilmu Allah dan dari ilmu Allah itu yang diberikan kepada manusia hanya sedikit.

11.

12.

Kitab Allah sebagai petunjuk bagi manusia

13.

Sebagaimana diketahui bahwa Allah SWT menurunkan beberapa kitab kepada beberapa Nabi-Nya. Semua kitab suci itu diturunkan Allah SWT untuk petunjuk bagi umat manusia. Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa adalah petunjuk bagi umat Nabi Musa pada waktu itu. Demikian juga Injil yang diturunkan kepada nabi Isa. Namun kitab suci Al Qur'an diturunkan bukan hanya untuk kaum Quraisy bangsa Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia. Hal ini dapat diperhatikan dari Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 138 :

14.



15.




16.




17.

Artinya :

18.

(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petuntuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.

19.

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa kitab-kitab suci itu diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi umat manusia menuju jalan yang diridhai oleh Allah SWT.




1.

CARA MEMELIHARA DAN MENUMBUHKAN IMAN KEPADA

2.

KITAB-KITAB ALLAH.




1.

Menyakini bahwa ajaran-ajaran yang terdapat dalam Kitab-kitab Allah khususnya Al Qur'an adalah benar. Terlebih dahulu perlu diyakini bahwa Allah SWT telah menciptakan buat manusia ajaran-ajaran serta hukum-hukum yang diwahyukan kepada para Rasul dan Nabi Nya.

2.

Di antara ajaran-ajaran dan ketetapan-ketetapan hukum tersebut ada yang dicatat dan dibukukan dalam bentuk Kitab Suci dan diantarannya ada yang tidak dicatat sehingga tidak dapat kita ketahui. Akan tetapi yang jelas bahwa setiap Rasul itu pasti mendapatkan dan menerima ajaran-ajaran berupa wahyu dari Allah yang wajib disampaikan kepada umat dan kaumnya.

3.

Adapun wahyu Allah yang disampaikan kepada para RasulNya antara lain yaitu Kitab suci Al Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul dan Nabi yang penghabisan. Dengan demikian maka Al Qur'an merupakan kumpulan wahyu Allah yang terakhir.

4.

Bagaimana cara kita menyakini bahwa Al Qur'an itu betul-betul merupakan wahyu dari Allah ? Kita menyakini bahwa Al Qur'an itu memang wahyu Allah karena :

5.

1.

Tidak mungkin Al Qur'an dibuat atau disusun oleh Nabi Muhammad sendiri, karena beliau adalah seorang yang "Ummi" atau tidak bisa membaca dan menulis.

2.

3.

Al Qur'an begitu indah dan menarik susunan bahasanya, tidak bosan kita membacanya meskipun berulang-ulang, orang yang mendengar bacaan ayat suci Al Qur'an pasti akan terpukau karenanya.

4.

5.

Al Qur'an tidak dapat dipalsukan meskipun hanya satu huruf saja.

6.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Al Qur'an bukanlah buatan manusia biasa, tetapi betul-betul wahyu dari Allah, justru karena itulah maka tidak seorangpun yang bisa menandingi kefasihan serta keindahan bahasa Al Qur'an.


Firman Allah dalam Al Qur'an Surat Al Isra ayat 88 yang artinya :





Artinya :

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". (Al Isra': 88)




1.

Menyakini bahwa Al Qur'an merupakan pedoman hidup umat Islam.

2.

Selanjutnya perlu kita yakini pula bahwa Al Qur'an itu merupakan tuntunan serta pedoman hidup dan sebagai petunjuk bagi manusia ke arah jalan yang lurus serta membawa keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

3.

Firman Allah dalam Al Qur'an :

4.



5.




6.




7.

Artinya :

8.

Sesungguhnya Al Qur'an ini menunjuki jalan yang lebih lurus. (Al Isra': 17)

9.

Al Qur'an juga merupakan lanjutan dan penyempurnaan terhadap ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasul-rasul sebelumnya, dengan demikian Al Qur'an berisi ajaran dan tuntunan hidup yang telah lengkap dan sempurna, tidak mungkin akan ada penambahan atau pengurangan sampai akhir zaman.

10.

Disamping itu Al Qur'an adalah satu-satunya Kitab Suci yang masih murni dan asli, seluruh isinya tidak pernah mengalami perubahan baik dulu, sekarang maupun pada waktu yang akan datang. Hal ini dikarenakan Al Qur'an adalah wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad saw dari malaikat Jibril, dan Jibril menerimanya langsung dari Allah SWT, kemudian Nabi Muhammad saw sendiri yang menyampaikan kepada umatnya tanpa perbedaan sedikitpun dari aslinya, lalu wahyu tersebut dihafal dan dicatat kemudian dibukukan seperti apa yang kita miliki sekarang. Di samping itu banyak umat Islam yang hafal Al Qur'an, sehingga jika terjadi pemalsuan akan segera terdeteksi. Bukankah hal ini merupakan suatu hal yang sangat sempurna ?

11.

12.

Mentaati serta melaksanakan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya.

13.

Al Qur'an memuat dan mengandung segala ketentuan hukum yang sangat diperlukan oleh umat manusia dalam hidup dan kehidupannya.

14.

15.

Memelihara dan menghormati Al Qur'an.

16.

Oleh karena kita telah yakin bahwa Al Qur'an itu adalah kitab suci umat Islam yang merupakan wahyu dari pada Allah, maka kita wajib memeliharannya dan menghormatinya atau memuliakannya.

17.
Makna Beriman Kepada Kitab-kitab Allah

POSTED BY : NOFIA LINDAWATI JUMAT, 01 APRIL 2016

Makna beriman kepada kitab-kitab Allah SWT yaitu kepercayaan yang pasti bahwasanya Allah SWT memiliki kitab-kitab yang diturunkan kepada para Rasulnya untuk disampaikan kepada para hamba-Nya. Kitab-kitabtersebut adalah adalah Kalamullah yang dengannya Allah SWT berbicara secara sesungguhnya sesuai yang pantas untuk diri-Nya. Dalam kitab-kitab tersebut terdapat kebenaran, cahaya dan petunjuk bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat.

Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT mencakup tiga perkara :



1. Beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar diturunkan dari Allah SWT.

2. Beriman kepada apa yang telah Allah SWT namakan dari kitab-kitab-Nya, seperti Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi kita Muhammad SAW, Taurat yang diturunkan kepada Musa AS dan Injil yang diturunkan kepada Isa AS.

3. Mempercayai berita-berita yang bena dari kitab-kitab tersebut sebagaimana pembenaran kita terhadap berita-berita Al-Quran.

Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT adalah termasuk salah satu rukun iman, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat An-Nisa : 136 yang berbunyi : “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-sejauhnya”.



Allah SWT menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para Rasul-Nya untuk disebar luaskan dan diajarkan kepada umat Manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidupnya. Kitab-kitab Allah SWT yang wajib diketahui oleh orang yang beriman ada empat yaitu :



1. Kitab Taurat : Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS sebagai pedoman hidup Bani Israil seperti Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 2 yang berbunyi : “Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu sebagai petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman) : janganlah kamu mengambil penolong selain aku”.

Adapun isi pokok kitab Taurat dikenal dengan “Sepuluh Perintah Tuhan” yaitu, jangan ada padamu Tuhan lain di hadirat-Ku, jangan membuat patung ukiran dan jangan pula menyembah patung karena Aku Tuhan Allahmu, jangan kamu menyebut Tuhan Allahmu dengan sia-sia, ingatlah kamu akan hari Sabat (Sabtu) supaya kamu sucikan dia, Berilah hormat kepada bapak ibumu, Jangan membunuh sesama Manusia, Larangan berbuat Zina, Larangan mencuri, Larangan menjadi saksi palsu, Larangan berkeinginan memiliki hak orang lain.



2. Kitab Zabur : kitab yang diturunkan kepada Nabi Daud AS untuk dijadikan pedoman hidup bagi kaumnya. Firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 55 yang berbunyi : “Dan Tuhan-Mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah kami lebihkan sebagian Nabi-Nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur kepada Daud”.

Kitab Zabur berisi kumpulan Nyanyian-nyanyian pujian kepada Allah SWT atas segala nikmat Ilahi. Di dalamnya juga berisi Dzikir, doa, Nasihat, dan hikmah. Menurut orang-orang Yahudi dan Nasrani, kitab Zabur sekarang ada pada Perjanjian Lama, yang terdiri atas 150 pasal.



3. Kitab Injil : Kitab yang diturunkan kepada Nabi Isa AS atau Yesus versi Nasrani, sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi Bani Israil, seperti Firman Allah dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 46 yang berbunyi : “Dan Kami iringkan jejak mereka (Nabi-Nabi Bani Israil) dengan Isa Putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa”.

Isi pokok Kitab Injil adalah ajaran untuk hidup dengan Zuhud dan menjauhi kerakusan dan ketamakan dunia. Ini dimaksudkan untuk meluruskan kehidupan orang-orang Yahudi yang materialistis.



4. Kitab Al-Quran : Kitab Al-Quran adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi terakhir yaitu Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup umatnya. Berbeda dengan kitab-kitab sebelumnya yang terbatas untuk satu kaum, Al-Quran tidak hanya diturunkan untuk Bangsa Arab, melainkan untuk seluruh umatnya. Permulaan turunnya Al-Quran adalah pada tanggal 17 Ramadhan Tahun 40 dari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Permulaan ayat Al-Quran yang turun adalah surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5. Firman Allah SWT :“Bacalah dengan (menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Sedangkan surat yang terakhir turun adalah surat Al-Maidah ayat 3. Firman Allah SWT : “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu Agamamu, dan telah K-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi Agama bagimu”.

Telah diterangkan sebelumnya bahwa ,seorang Nabi menerima syariat melalui wahyu yang berasal dari tuhan untuk dan dirinya dan juga bisa diberikan kepada selainnya, sedangkan rasul adalah seorang Nabi yang bertugas menyampaikan syariat, petunjuk aatau hal lainnya kepada sebagian umat yang menjadi tanggungannya, jadi seorang Rasul pastilah dia seorang Nabi dan dengan demikian seorang Nabi belum tentu berfungsi sebagai Rasul.

Rasul menerima suhuf atau Kitab yang dalam arti harfiahnya bermakna lembaran-lembaran yang tertulis, tertulis dalam arti belum tentu yang ditulis oleh si penerima wahyu, tentang syariat, perintah atau larangan, diantaranya adalah :

· Nabi ibrahim AS

· Nabi Musa AS, disebut Taurat, berisi hukum syariat yang ditujukan kepada Bani Israil.

· Nabi Daud AS, disebut Zabur, juga ditujukan kepa Bani Israil.

· Nabi Isa al-Masih AS, disebut injil yang merupakan penyempurnaan dan penjelas bagi kitab-kitab sebelumnya yaitu Zabur dan Taurat dan ditujukan juga untuk Bani Israil.

· Nabi Muhammad SAW, disebut Al-Qur'an, merupakan petunjuk berupa syariat dan hukum bagi seluruh umat manusia dan sebagai penjelas dan penyempurna kitab-kitab Allah sebelumnya.



Jadi Al-Quran merupakan wahyu tertulis terakhir (Final Revelation) berisi tentang penjelasan segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam menempuh kehidupan di dunia agar mencapai kesejahteraan, keselamatan dengan tujuan akhir adalah kebahagiaan hidup di akhirat nanti.



Semua kitab-kitab tersebut berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Tahu, Tuhan Semesta Alam, Allah SWT. Oleh karena sumbernya satu, maka semua ajarannya adalah sejalan selaras dan bisa dijadikan dasar untuk membenarkan kitab-kitab sebelumnya.

Allah SWT menurunkan kitab kepada umat manusia dengan tujuan memberikan petunjuk jalan, hukum-hukum dan syariat yang bisa digunakan oleh manusia yang beriman untuk keselamatan dunia dan akhirat.

1.Pengertian Kitab dan Suhuf Kitab



Pengertian Kitab dan Suhuf Kitab yaitu kumpulan wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul untuk diajarkan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Suhuf yaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.

Ada persamaan dan perbedaan antara kitab dan suhuf

Persamaan

Kitab dan suhuf sama-sama wahyu dari Allah.

Perbedaan

1. Isi kitab lebih lengkap daripada isi suhuf
2. Kitab dibukukan sedangkan suhuf tidak dibukukan.
Allah menyatakan bahwa orang mukmin harus meyakini adanya kitab-kitab suci yang turun sebelum Al Qur’an seperti disebutkan dalam firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya”. (QS An Nisa : 136)

Selain menurunkan kitab suci, Allah juga menurunkan suhuf yang berupa lembaran-lembaran yang telah diturunkan kepada para nabi seperti Nabi Ibrahim a.s dan nabi Musa a.s.



Firman Allah SWT: “ (yaitu) suhuf-suhuf (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Ibrahim dan Musa” (Al A’la : 19)


Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia dalam meyakini Allah SWT dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT:



“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya dan apa yang kami berikan kepada Musa dan Isa seperti apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan kami hanya patuh kepada-Nya.” (QS Al Baqarah : 136)



2. Prilaku yang mencerminkan Keimanan Kepada Kitab Allah



1. Meyakini bahwa Kitab Allah itu benar datang dari Allah.

2. Menjadikan kitab Allah sebagai Pedoman (hudan) khusus kitab yang diturunkan kepada kita
3. Memahami isi kandungannya.
4. Mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari Umat manusia, khususnya umat muslim harus meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab Nya kepada para nabi atau Rasul sebagai pedoman hidup bagi umatnya masing-masing. Al Qur’an sebagai kitab Allah yang terakhir dan penyempurna sebelumnya telah diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.

Para nabi/Rasul yang menerima kitab wahyu tersebut yang bertugas menyampaikan pesan wahyu tersebut, bisa diartikan sebagai penyelamat bagi umat yang diperintahkan Allah untuk menyampaikannya. Jadi Nabi Ibrahim adalah penyelamat umatnya, Nabi Musa adalah penyelamat Bani israil kemudian oleh Nabi-nabi lainnya (yang tidak diberitakan oleh Al-Qur'an) serta diikuti oleh Nabi Isa Al-Masih AS.
Para Nabi/Rasul seluruhnya adalah penyelamat atau juru selamat bagi umatnya, dikarenakan mereka menerima wahyu dan sekaligus menjelaskan tentang wahyu tersebut untuk keselamatan umatnya dalam menempuh kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Al-Qur'an sebagai final revelation, ditujukan kepada seluruh umat manusia dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, berisi seluruh rangkuman dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya, petunjuk jalan, pembeda antara yang bathil dan yang hak, sebagai penerang dikarenakan berisi segala sesuatu yang diperlukan oleh manusia. Seluruh Ilmu Pengetahuan terdapat dalam Al-Qur'an, sosial, ekonomi, bernegara, teknologi, jual-beli (bisnis), hukum privat dan lain sebagainya.
Oleh karena itu Al-Qur'an pantas menjadi petunjuk bagi seluruh umat manusia, sepanjang jaman sampai hari kiamat. Dengan demikian siapa yang ingin mencari keselamatan , pelajarilah Al-Qur'an , ikuti petunjuknya !! Nabi Muhammad SAW sebagai pengemban tugas penyampaian wahyu terakhir bisa dikatakan berfungsi sebagai penyelamat seluruh umat manusia, ya, Nabi Muhammad adalah Juru Selamat seluruh umat manusia.

Al-Qur’an sebagai kitab Allah yang terakhir mempunyai perbedaan dengan kitab-kitab lain, sebagai berikut :

Pertama, Kitab-kitab suci yang ada dalam kalangan berbagai bangsa itu hanya ditujukan kepada suatu golongan manusia tertentu. Ajaran-ajarannya terutama perundang-undangannya dimaksudkan untuk menjalankan pada waktu tertentu pula, sesuai dengan kondisi dan tempatnya. Kini tidak butuhkan lagi dan tidak pula dapat dijalankan. Berbeda dengan Qur’an, semua ajaran dan perundang-undangannya dapat diamalkan pada tiap-tiap tempat di bumi ini dan dalam segala zaman. Ajaran Qur’an universal untuk seluruh manusia sampai akhir zaman.

Kedua, bahwa teks asli dari kitab yang telah lalu itu telah hilang sama sekali, yang ada hanya salinannya saja pada hari ini. Dalam pada Al-Qur’an sekarang masih seperti yang pernah diturunkan kepada Muhammad pada 14 abad yang lalu. Sedikit pun tidak pernah berubah, hatta satu huruf sekali pun.

Ketiga, kitab-kitab suci yang telah lalu dikirim dalam bahasa yang telah mati sejak beberapa abad yang silam. Tidak ada suatu bangsa di atas bumi ini yang bercakap-cakap dengan bahasa-bahasa itu dalam masa kita, hanya sedikit sekali orang yang mengerti. Sebaliknya Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa yang hidup. Hari ini berjuta-juta manusia berbicara dengan bahasa Qur’an, ia tetap menjadi standar bahasa Arab modern

Keempat, bahwa kitab-kitab itu telah bercampur aduk antara wahyu-wahyu Allah dengan perkataan-perkataan manusia. Akan tetapi Qur’an dibuktikan oleh sejarah, bahwa ia tetap orisinil sebagai wahyu Allah, kemurniannya terjamin terus.

Kelima, sejarah turunnya ayat-ayat dan kalimat-kalimat, kitab-kitab itu serta sejarah penulisannya telah kabur. Ia sama sekali tidak mengandung dasar-dasar sejarah walaupun pada surat-surat yang paling pendek, dimana dasar-dasar itu sangat fundamental bagi kitab Samawi atau bagi ajaran-ajaran seorang Nabi.
Dalam pada itu Qur’an mempunyai sejarah yang terang benderang. Bahkan setiap ayat Qur’an dapat diketahui dengan jelas tentang sejarah, dimana, kapan dan sebab musabab turunnya.
Kitab Al qur'an

Al-Qur'an adalah kitab suci agama Islam.

Umat Islam memercayai bahwa Al-Qur'an merupakan puncak dan penutup wahyu Allah hanya yang
diperuntukkan bagi manusia, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Dan sebagai wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang terdapat dalam surat Al-'Alaq ayat 1-5 Kitab Al-Qur'an yang artinya:" sungguh kami telah menurunkan az Zikir (al-Qur'an) dan sungguh kami akan memeliharanya.



Diberikan kepada nabi muhammad saw, sebagai penyempurna kitab sebelumnya dari awal mula al Qur'an diturunkan sampai sekarang dan seterusnya akan selalu terjaga keaslianya dan juga allah menjamin kitab suci al quran akan selalu terjaga keaslianya"

A.Hubungan dengan kitab-kitab lain

Berkaitan dengan adanya kitab-kitab yang dipercayai diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad SAW dalam agama Islam (Taurat, Zabur, Injil, lembaran Ibrahim), Al-Qur'an dalam beberapa ayatnya menegaskan posisinya terhadap kitab-kitab tersebut. Berikut adalah pernyataan Al-Qur'an yang tentunya menjadi doktrin bagi ummat Islam mengenai hubungan Al-Qur'an dengan kitab-kitab tersebut:


a.Bahwa Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab
tersebut. QS(2:4)

b.Bahwa Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab sebelumnya. QS(5:48)

c.Bahwa Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara
ummat-ummat rasul yang berbeda. QS(16:63-64)

d.Bahwa Al-Qur'an meluruskan sejarah. Dalam Al-Qur'an terdapat cerita-cerita mengenai kaum dari rasul-rasul terdahulu, juga mengenai beberapa bagian mengenai kehidupan para rasul tersebut.

Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah adalah mempercayai dan meyakini sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para nabi atau rasul yang berisi wahyu Allah untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia. Ada 3 tingkatan dalam beriman kepada kitab Allah, yaitu :

1. Qotmil (membaca saja)

2. Tartil (membaca dan memahami)

3. Hafidz (membaca, memahami, mengamalkan dan menghafalkan.

Singkatnya kita sebagai umat Islam belum cukup beriman kepada kitab-kitab Allah swt saja, tetapi harus senantiasa membaca, mempelajari dan memahami isi kandungannya. Sehingga kita tahu aturan-aturan dalamnya untuk selanjutnya kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari



Daftar Isi

· Pengertian Kitab dan Suhuf

· Kitab-Kitab Allah

· 1. Kitab Taurat

· 2. Kitab Zabur

· 3. Kitab Injil

· Fungsi Iman kepada Kitab-kitab Allah

· Hikmah Iman kepada Kitab-kitab Allah

· Penerapan Iman terhadap Kitab-kitab Suci
Pengertian Kitab dan Suhuf

Kitab yaitu kumpulan wahyu Allah yang disampaikan kepada para rasul untuk diajarkan kepada manusia sebagai petunjuk dan pedoman hidup. Suhuf yaitu wahyu Allah yang disampaikan kepada rasul, tetapi masih berupa lembaran-lembaran yang terpisah.

Ada persamaan dan perbedaan antara kitab dan suhuf.

· Persamaan : Kitab dan suhuf sama-sama wahyu dari Allah.

· Perbedaan : Isi kitab lebih lengkap daripada isi suhuf, kitab dibukukan sedangkan suhuf tidak dibukukan.

Allah menyatakan bahwa orang mukmin harus meyakini adanya kitab-kitab suci yang turun sebelum Al Qur’an seperti disebutkan dalam firman Allah :

QS. An-Nisa ayat 136

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya”. (QS An Nisa : 136)

Selain menurunkan kitab suci, Allah juga menurunkan suhuf yang berupa lembaran-lembaran yang telah diturunkan kepada para nabi seperti Nabi Ibrahim a.s dan nabi Musa a.s. Firman Allah SWT .

Kitab-kitab Allah berfungsi untuk menuntun manusia dalam meyakini Allah SWT dan apa yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT berikut.


Kitab-Kitab Allah
1. Kitab Taurat

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Musa as sebagai pedoman dan petunjuk bagi Bani Israel. Sesuai firman Allah swt yang artinya: “Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): “Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku” (QS. Al-Isra’ [17]: 2)

Adapun isi kandungan kitab Taurat meliputi hal-hal berikut :

1. Kewajiban meyakini keesaan Allah

2. Larangan menyembah berhala

3. Larangan menyebut nama Allah dengan sia-sia

4. Supaya mensucikan hari sabtu (sabat)

5. Menghormati kedua orang tua

6. Larangan membunuh sesama manusia tanpa alasan yang benar

7. Larangan berbuat zina

8. Larangan mencuri

9. Larangan menjadi saksi palsu

10. Larangan mengambil hak orang lain


2. Kitab Zabur

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Daud as sebagai pedoman dan petunjuk bagi umatnya. Firman Allah

QS. Al Isra Ayat 55

Artinya: “Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (QS. Al-Isra’ [17]: 55)

Kitab Zabur (Mazmur) berisi kumpulan nyanyian dan pujian kepada Allah atas segala nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Selain itu berisi zikir, doa, nasihat, dan kata-kata hikmah. Menurut orang-orang Yahudi dan Nasrani, kitab Zabur sekarang ada pada Perjanjian Lama yang terdiri atas 150 pasal.


3. Kitab Injil

Kitab ini diturunkan kepada Nabi Isa as sebagai petunjuk dan tuntunan bagi Bani Israel. Allah swt berfirman

QS. Al Maidah 46

Artinya: “Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi Nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu: Taurat. dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, Yaitu kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah [5]: 46

Kitab Injil memuat beberapa ajaran pokok, antara lain:

· Perintah agar kembali kepada tauhid yang murni

· Ajaran yang menyempurnakan kitab Taurat

· Ajaran agar hidup sederhana dan menjauhi sifat tamak (rakus)

· Pembenaran terhadap kitab-kitab yang datang sebelumnya



4. Kitab al-Qur’an

Kitab suci al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw untuk dijadikan petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia, bukan hanya untuk bangsa Arab. Sebagaimana firman Allah

QS. Al Furqan Ayat 1

Artinya: “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar Dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan [25]: 1)

Secara keseluruhan, isi al-Qur’an meliputi hal-hal berikut:

· Pembahasan mengenai prinsip-prinsip akidah (keimanan)

· Pembahasan yang mengangkat prinsip-prinsip ibadah

· Pembahasan yang berkenaan dengan prinsip-prinsip syariat

Kedudukan-kedudukan al-Qur’an antara lain:

· Sebagai wahyu Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw

· Sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw

· Sebagai pedoman hidup manusia agar tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat

· Sebagai sumber dari segala sumber hukum Islam

Pelajar Juga :

· Pengertian dan Fungsi Iman Kepada Rasul Allah

· Pengertian Iman Kepada Hari Akhir
Fungsi Iman kepada Kitab-kitab Allah

· Untuk meningkatkan kualitas kehidupan pribadi

· Untuk membangun kehidupan bermasyarakat

· Untuk menjalin kerukunan dalam hidup berbangsa dan bernegara


Hikmah Iman kepada Kitab-kitab Allah

· Meningkatkan keimanan kepada Allah swt yang telah mengutus para rasul untuk menyampaikan risalahnya.

· Hidup manusia menjadi tertata karena adanya hukum yang bersumber pada kitab suci

· Termotivasi untuk beribadah dan menjalankan kewajiban-kewajiban agama, seperti yang tertuang dalam kitab suci

· Menumbuhkan sikap optimis karena telah dikaruniai pedoman hidup dari Allah untuk meraih kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat

· Terjaga ketakwaannya dengan selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya


Penerapan Iman terhadap Kitab-kitab Suci

1. Ada banyak cara untuk beriman terhadap kita-kitab suci Allah, diantaranya :

· Meyakini kebenaran yang terkandung dalam kitab-kitab Allah

· Meyakini bahwa kitab-kitab itu benar-benar wahyu Allah bukan karangan para nabi dan rasul

2. Beriman kepada al-Qur’an. Caranya adalah :

· Meyakini bahwa al-Qur’an benar-benar wahyu Allah, bukan karangan Nabi Muhammad saw

· Meyakini bahwa isi al-Qur’an dijamin kebenarannya, tanpa ada keraguan sedikit pun

· Mempelajari, memahami, dan menghayati isi kandungan al-Qur’an

· Mengamalkan ajaran al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari

Manfaat iman kepada Kitab-kitab Allah Swt adalah sebagai petunjuk hidup. Manusia hidup di dunia memerlukan petunjuk agar hidupnya terarah. Petunjuk yang diperlukan harus mempunyai kualitas yang tinggi melebihi petunjuk yang dapat membimbing manusia kearah tujuan hidup hanyalah kitab suci yang telah diwahyukan Allah Swt kepada para rasul-Nya



Manfaat beriman lepada kitab-kitab Allah swt antara lain :

1. Mempertebal keimanan kepada Allah swt.

2. Memperkuat keyakinan seseorang terhadap tugas Nabi Muhammad saw.

3. Menambah ilmu pengetahuan

4. Menanamkan sikap toleransi terhadap pengikut agama lain.

Perilaku orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah Swt

1. Memiliki rasa hormat dan menghargai kitab suci sebagai kitab yang memiliki kedudukan di atas segala kitab yang lain

2. Berusaha menjaga kesucian kitab suci dan membelanya apabila ada pihak lain yang meremehkannya.

3. Mau mempelajari dengan sungguh-sungguh petunjuk yang ada di dalam, baik dengan membaca sendiri maupun menghadiri majlis taklim.

4. Berusaha untuk mengamalkan petunjuk-petunjuknya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki

5. Berusaha untuk menyebarluaskan petunjuk-petunjuknya kepada orang lain, baik di lingkungan keluarga sendiri maupun masyarakat

6. Berusaha untuk memperbaiki bacaannya dengan mempelajari ilmu tajwid.

7. Tunduk kepada hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Perintah beriman kepada kitab-kitab Allah telah ditegaskan dalam firman-Nya:

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Artinya:

Wahai orang-orang beriman, berimanlah kalian kepada Allah dan kepada rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepadanya, juga kitab yang diturunkan sebelumnya. (Q.S. An-Nisa : 136)



Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu di antara pokok-pokok kepercayaan dalam Islam. Setiap orang muslim wajib beriman kepada kitab-kitab Allah. Pengingkaran kepada salah satu kitab Allah sama saja pengingkaran terhadap semua kitab-Nya. Jika demikian sama saja dengan mengingkari terhadap Allah yang telah memfirmankannya.



ولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya:

Katakanlah (hai orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa-apa (kitab/suhuf) yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishak, Nabi Ya'qub, dan anak cucunya, dan apa yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa serta apa yang diberikan kepada para Nabi dari Rab mereka kami tidak membeda-bedakan antara mereka. (Q.S. Al-Baqarah: 136)



Para rasul adalah manusia pilihan yang diamanati oleh Allah untuk menyampaikan wahyu-wahyu kepada umat manusia. Wahyu-wahyu Allah itu terhimpun dalam beberapa kitab suci, yaitu:

1. Kitab Taurat diwahyukan kepada Nabi Musa a.s.

2. Kitab Zabur diwahyukan kepada Nabi Dawud a.s.

3. Kitab Injil diwahyukan kepada Nabi Isa a.s.

4. Kitab Al-Qur'an diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.



Termasuk pula suhuf yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.



وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّىٰ . أَمْ لَمْ يُنَبَّأْ بِمَا فِي صُحُفِ مُوسَىٰ

Artinya:

Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Mussa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Q.S. An-Najm: 36-37)



Semua kitab Allah dam suhuf yang diturunkan-Nya sama isinya, yaitu mengajak manusia agar mengEsakan Allah dan menyucikan-Nya dari segala kesyirikan, Namun bagi umat Nabi Muhammad saw. tidak diperintahkan berpedoman kepada kitab selain Al-Qur'an mereka hanya diwajibkan mengimaninya. Karena kewajiban mengamalkannya berakhir ketika Al-Qur'an turun.



Namun demikian hakikat ajaran yang ada dalam kitab-kitab sebelum Al-Qur'an ada dalam Al-Qur'an pula, karena kitab Al-Qur'an adalah penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya.



نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ . مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Artinya:

Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenar-benarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia. (Q.S. Ali Imran: 3-4)




Sikap Sehari-hari Orang yang Beriman kepada Kitab Allah
Baca juga:

· Ayat Al-Qur'an Tentang Anjuran Bertoleransi antar Umat Beragama

· Reaksi-reaksi dalam Larutan Elektrolit

· Pengertian Khutbah, Tablig, dan Dakwah, LENGKAP!

· Tata Cara mengurus Jenazah (Lengkap, sampai Akhir)

Karena beriman kepada kitab Allah adalah sikap atau perasaan, maka yang dapat mengetahui apakah dia beriman atau tidak hanyalah Allah dan dirinya sendiri. Namun orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah akan membuktikannya dengan sikap dalam kehidupan sehari-hari, diantaranya:



#1. Menjadikan pedoman dalam kehidupannya. Fungsi ini telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya berikut.

مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya:

Al-Qur'an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat. Akan tetapi pembenaran bagi kitab yang sebelumnya, dan berguna sebagai penjelas segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Q.S. Yusuf: 111)



Manusia hidup didunia tanpa menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman, ibarat orang yang berjalan di tempat yang asing dan gelap tidak dapat menghalangi rintangan yang dilaluinya, dan pasti tidak selamat dari segala yang membahayakan perjalanannya. Dapat dikatakan bahwa kitab suci ibarat lentera yang menerangi jalan yang hendak dilewati manusia sehingga dapat selamat sampai pada tujuan, yakni bahagia dunia akhirat kelak.



#2. Sebagai hakim dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Setiap orang tidak terlepas dari permasalahan hidup. Permasalahan selalu datang silih berganti, sesuai dengan tingkat keimanan seseorang. Namun mereka yang selamat dan tepat dalam menyelesaikan adalah yang bertindak sesuai aturan Al-Kitab (Al-Qur'an).



وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Artinya:

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. (Q.S. Al-Ahzab: 36)



#3. Meyakini bahwa Al-Qur'an adalah kitab Allah yang paling akhir diturunkan. Tidak ada kitab sesudahnya.



#4. Meyakini bahwa Al-Qur'an tidak berlaku bagi orang Arab saja, namun bagi semua manusia sampai akhir zaman.



#5. Menjadikan segala perbuatan dan usahanya adalah bernilai ibadah kepada Allah.



Menurut pengertian yang universal, ibadah adalah segala sesuatu yang disukai Allah. Baik berupa perkataan, perbuatan, baik yang dikerjakan secara terang-terangan maupun yang sembunyi-sembunyi.




Hikmah Beriman kepada Kitab Allah

Hikmah dan kebaikan yang akan diperoleh orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah di antaranya:

1. Akan mendapat pahala. Karena iman kepada kitab Allah adalah wajib. Sedangkan pengertian wajib menurut Islam adalah setiap amanat yang jika dilakukan mendapat pahala dan jika ditinggalkan mendapat dosa.

2. Amalannya senantiasa baik dan teruji. Karena orang yang beriman kepada kitab Allah akan membuktikan keimanannya dengan banyak beramal saleh.

3. Akan terjaga kesucian jiwanya. Karena orang yang beriman kepada kitab Allah akan selalu berbuat yang diridai Allah, dan menghindari dari perbuatan dosa dan keji.

4. Memperkuat keyakinan kepada Nabi Muhammad saw.



Kedudukan Hadist dalam Tasyri'
Dalam hukum Islam, hadits menjadi sumber hokum kedua setelah al-Qur`an. Penetapan hadits sebagai sumber kedua ditunjukan oleh tiga hal, yaitu al-Qur`an sendiri, kesepakatan (ijma`) ulama, dan logika akal sehat (ma`qul). Al-Quran menekankan bahwa Rasul Saw berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah (QS. 16:44). Karena itu apa yang disampaikan Nabi harus diikuti, bahkan perilaku Nabi sebagai rasul harus diteladani oleh kaum muslimin. Sejak masa sahabat sampai hari ini para ulama telah bersepakat dalam penetapan hokum didasarkan juga kepada sunnah Nabi, terutama yang berkaitan dengan petunjuk operasional. Keberlakuan hadits sebagai sumber hukum diperkuat pula dengan kenyataan bahwa Al-Qur`an hanya memberikan garis-garis besar dan petunjuk umum yang memerlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Karena itu, keabsahan hadits sebagai sumber kedua secara logika dapat diterima.

Di antara ayat-ayat yang menjadi bukti bahwa hadits merupakan sumber hokum dalam Islam adalah sebagai berikut :
An- Nisa': 80

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ … (80)

"Barangsiapa yang mentaati Rosul, maka sesungguhnya dia telah mentaati Alloh…"
Dalam ayat lain Allah berfirman :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا … (7)

"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…" (QS. Al-Hasyr : 7)
Dalam Q.S AnNisa' 59, Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ … (59)

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembali kanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)…"

Dari beberapa ayat di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang tidak cukup hanya berpedoman pada al-Qur'an dalam melaksanakan ajaran Islam, tapi juga wajib berpedoman kepada hadits Rasulullah Saw. Hal ini juga ditegaskan oleh Syaikh al-Albani bahwa syari'at Islam bukan hanya al-Qur'an saja, melainkan juga as-Sunnah. Barangsiapa hanya berpegang pada salah satunya, maka berarti sama dengan tidak berpegang dengan keduanya, karena Al-Qur'an memerintahkan untuk berpegang dengan as-Sunnah demikian pula sebaliknya. (manzilatus sunnahfil Islam, hal:14, MaktabahSyamilah)
Kedudukan dan Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur'an
Al-Qur'an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Allah. Kitab al-Qur'an adalah sebagai penyempurnadari kitab-kitab Allah yang pernah diturunkan sebelumnya. Dalam al-Qur'an terkandung petunjuk dan aturanberbagai aspek kehidupan manusia. Ayat-ayat Makkiyyah misalnya banyak berbicara tentang persoalan tauhid,keimanan, kisah para nabi dan rasul terdahulu, dan lain sebagainya. Sementara ayat-ayat Madaniayah banyakmenjelaskan tentang ibadah, muamalah, hudud, jihad, dan lain sebagainya. Secara umum kandungan al-Qur'an dapat dibagi kepada tiga hal pokok, yaitu prinsip-prinsip akidah, seperti beriman kepada Allah Swt, rasul-rasulnya dan lain-lain, prinsip-prinsip ibadah, seperti sholat, puasa dan lain-lain, prinsip-prinsip syariat, seperti hukum perkawinan, kewarisan dan lain-lain. Namun meskipun demikian al-Qur'an tidak bisa dipisahkan dengan hadits, karena syariat Islam tidak hanya al-Qur'an tapi al-Qur'an dan hadits. Bahkan ada ulama yang menyatakanbahwa al-Qur'an dan hadits berada dalam satu tingkatan dari sisi i'tibar dan hujjah dalam penetapan hukumsyari'at. Di sinilah pentingnya mengetahui fungsi dan kedudukan hadits terhadap al-Qur'an.
Imam Ibnu Al Qoyyim mengatakan bahwa hubungan hadits dengan al-Qur`an ada tiga :
1. Hadits sesuai dengan al-Qur`an dari berbagai segi, sehingga datang al-Qur`an dan hadits pada
satuhukummenunjukkanadadanbanyaknyadalil (semakin menguatkan).
2. Hadits sebagai penjelas maksud al-Qur`an dan penafsirnya.
3. Hadits menentukan satu hukum wajib atau haran pada sesuatu yang al-Qur`an diamkan.

As-Sunnah tidak akan keluar dari tiga kategori ini, sehingga As-Sunnah tidak akan menentang al-Qur`an sama sekali. ('Ilam Muwaqi'in: 307, Maktabah Syamilah).
Syeikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani juga berpendapat bahwa Rasulullah Saw befungsi untuk menjelaskan al-Qur'an. Beliau memandang bahwa penjelasan yang tertera dalam ayat al-Qur'an mencakup dua jenis penjelasan ;
1. Penjelasan lafadz dan susunannya. Seperti firman Allah dalam surat Al-Maidah: 67, diperkuat
dengan hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah 'Aisyah ra.

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ … (67)

"Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu…"
Hal ini diperkuat dengan hadits yang bersumber dari 'Aisyah ra, "Siapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Muhammad menyembunyikan sesuatu yang diperintahkan untuk disampaikan maka telah berdusta besar terhadap Allah. Kemudian beliau membaca ayat tersebut." (HR Bukhori Muslim). (manzilatussunnahfil Islam, hal:4, MaktabahSyamilah)
2. Penjelasan pengertian lafadz atau kalimat atau ayat yang umat butuh penjelasannya. Terbanyak terjadi pada ayat-ayat yang mujmalah (samar) atau umum atau mutlaq, lalu datanglah hadits menjelaskan yang mujmal, mengkhususkan yang umum dan mentaqyid yang muthlaq. Hal itu dijelaskan dengan perkataan, perbuatan dan persetujuan beliau.
Contoh firman Allah yang berbunyi ;

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al An'am : 82)
Para sahabat telah memahami firman Allah di atas sesuai keumumannya yang mencakup seluruh kezholiman baik yang besar ataupun yang kecil. Oleh karena itu mereka bertanya tentang ayat tersebut dengan menyatakan ;
"Wahai Rasululloh! Siapakah diantara kami yang tidak mencampuri keimanannya dengan kezholiman?Maka beliau menjawab: Bukan demikian, ia itu adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman: Sesungguhnya syirik adalah kezholiman yang besar." (QS Luqman: 13).(HR Bukhori Muslim dan lainnya).(manzilatus sunnah fil Islam, hal:14, Maktabah Syamilah)
Masih banyak lagi contoh yang beliau kemukakan dalam tulisannya tersebut terkait dengan ayat-ayat yang membutuhkan penjelasan dari sunnah Rasulullah Saw.
Syaikh 'Imad Sayyid Muhammad Ismail Asy Syarbini mengatakan bahwa hubungan antara al-Qur'an dengan As-Sunnah adalah dalam hal penjelasan. Hal ini bias disimpulkan kepada tiga hal ;
1. Menguatkan hukum yang ditetapkan al-Qur`an.
Contoh firman Allah Swt dalam surat Hud : 102.

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ (102)

"Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi
keras."

Ayat ini diperkuat dengan hadits riwayat Abu Musa yang maknanya hampir sama. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala akan menangguhkan
siksaannya bagi orang yang berbuat zhalim, apabila Allah telah menghukumnya maka dia tidak akan pernah melepaskannya. Kemudian Rasulullah Saw
membaca ayat surat Huud : 102 (H.R Muslim)
(kitabaatu a'dau al-islam wamunaqosyatuha, hal: 613, MaktabahSyamilah)

2. Menjelaskan maksud al-Qur'an, yaitu dengan cara merinci yang mujmal, membatasi yang mutlak, mengkhususkan yang umum dan menjelaskan yang musykil.

a. تفصيل المجمل (Merinci yang mujmal)

Contoh tentang kewajiban sholat dalam surat an-Nisa':103

……فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (103)

"Maka dirikanlah shalat itu sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."



Ayat ini hanya berisi tentang perintah sholat tapi tidak menjelaskan bagaimana pelaksanaannya, jumlah rakaatnya, syarat dan rukun, serta sebagainya sampai ada penjelasan terperinci dari Rasulullah Saw melalui sabdanya ;

"Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihataku sholat." (H.R Bukhori)

b. تقييد المطلقMembatasi yang mutlak

Contoh seperti ayat yang berkenaan potong tangan dalam surat Al-Maidah : 38

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا … (38)

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya…"

Ayat ini dibatasi oleh hadits bahwa yang dipotong hanya sampai pada pergelangan tangan. Hadits ini bisa dilihat dalam kitab Sunan Al-Kubro Imam Baihaqi.

c. تخصيص العام Mengkhususkan yang umum.

Seperti ayat yang berkaitan tentang waris dalam surat An-Nisa' : 11

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Allah mensyari'atkanbagimutentang (pembagianpusakauntuk) anak-anakmu.Yaitu :bahagianseoranganaklelakisamadenganbagahiandua orang anakperempuan

Ayat ini masih bersifat umum yang ditujukan kepada orang tua untuk mewariskan harta kepada anak-anak mereka, tapi kemudian Rasulullah mengkhususkan bahwa warisan hanya berlaku kepada sesama muslim, dan lain sebagainya.

d. توضيح المشكل Menjelaskan lafadz yang musykil

Ada lafadz dalam Al-Qur'an yang tidak diketahui maknanya secara jelas kecuali setelah mendengar keterangan dari Nabi Saw. Bahkan ini pernah terjadi pada 'Aisyah ra terkait dengan kata حساباdalam surat Al-Insyiqaq : 8. Dari 'Aisyah, Rasul Saw bersabda: Tidak seorangpun yang dipaparkan hisabnya melainkan akan celaka," "Wahai Rasulullah bukankah Allah berfirman :

فأما من أوتي كتابه بيمينه فسوف يحاسب حسابا يسيرا

(Barangsiapa yang diberikan kitabnya sebelah kanan, maka ia akan mendapat hisab yang mudah), Rasulullah bersabda: Yang dimaksud ayat itu adalah amal yang diperlihatkan, dan tidaklah seseorang hisabnya diperdebatkan, melainkan ia akan dihisab." (H.R Bukhori) (kitabaatu a'dau al-Islam wa munaqosyatuha, hal:614-620, Maktabah Syamilah)

3. Menetapkan hukum baru yang tidak ditetapkan oleh al-Qur`an. Karena dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang memerintahkan kepada orang-orang beriman
untuk taat secara mutlak kepada apa yang diperintahkan dan dilarang Rasulullah Saw, serta mengancam orang yang menyelisinya. (kitabaatua'dau al-Islam wa
munaqosyatuha, hal:612, MaktabahSyamilah)

Hukum yang merupakan produk hadits/sunnah yang tidak ditunjukan oleh al-Qur'an banyak sekali.Seperti larangan memadu perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, haram memakan burung yang berkuku tajam, haram memakai cincin emas, dan kain sutra bagi laki-laki dan lain sebagainya.Wallahu a'lam.

A. Pengertian Al-Qur'an



Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) telah memberi nama bagi kitab suci yang diturunkan kepada nabi dan rasul-Nya Muhammad Shallallahu Alaihi was Salam (SAW) dengan nama Al-Qur'an.




Secara bahasa (etimologi), kata Al-Qur'an berarti bacaan atau suatu yang dibaca. Menurut Al-Lihyani, kata Al-Qur'an adalah isim masdar dengan arti isim maf'ul, yaitu yang dibaca.

Adapun menurut istilah, Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang lafalnbya merupakan mu'jizat, dianggap ibadah bagi orang yang membacanya, diriwayatkan kepada kita secara mutawattir, dan ditulis dalam mushaf-mushaf yang dimulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-nas.



B. Nama-nama Al-Qur'an yang Masyhur



Kitab suci Al-Qur'an mempunyai sejumlah nama lain selain namanya sendiri, Al-Qur'an. naman-nama tersebut adalah.

1. Al-Furqan, yang berarti pembeda antara yang hak dan batil.

2. Al-Kitab.

3. Adz-Zikr, yang berarti peringatan bagi mereka yang lupa

4. At-Tanzil, yang berarti diturunkan

5. Shuhuf, yang berarti lembaran-lembaran.

C. Kedudukan Al-Qur'an Dalam Islam



Kedudukan Al-Qur'an di dalam islam adalah sebagai sumber dari segala sumber hukum yang ada di bumi, sebagaimana firman Allah:



يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِى ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡ ۖ فَإِن تَنَـٰزَعۡتُمۡ فِى شَىۡءٍ۬ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ ۚ ذَٲلِكَ خَيۡرٌ۬ وَأَحۡسَنُ

تَأۡوِيلاً

"Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul [Nya], dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah [Al Qur’an] dan Rasul [sunnahnya], jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama [bagimu] dan lebih baik akibatnya." (An-Nisa' : 59)



D. Fungsi Al-Qur'an Dalam Islam



Adapun sebagian fungsi dari Al-Quran yaitu :

1. Sebagai Hidayah dan Petunjuk bagi manusia dalam menjalani hidupnya secara baik dan sebagai rahmat bagi alam semesta. Disamping itu juga sebagai pembeda antara yang benar dan yang salah, sebagai pedoman dalam menyelesaikan sesuatu yang muncul di tengah masyarakat.

2. Sebagai mu'jizat terbesar Nabi Muhammad saw untuk membuktikan bahwa beliau adalah Nabi sekaligus Rasul Allah, dan bahwa Al-Qur'an benar-benar firmanNya yang tidak dapat ditandingi

3. Sebagai Pemberi kata putus terakhir yang benar mengenai masalah yang diperselisihkan dikalangan pemimpin-pemimpin agama, dari macam-macam agama, sekaligus sebagai pelurus kepercayaan-kepercayaan, pendapat-pendapat, anggapan-anggapan yang salah dan keliru yang terdapat dalam bibel atau kitab-kitab lain yang dipandang suci oleh para pemiliknya

4. sebagai pengukuh dan penguat kebenaran adanyan Kitab-kitab suci yang pernah diturunkan sebelum Al-Quran, dan kebenaran tentang adanya para nabi dan rasul beserta kitab sucinya msing-masing yang sudah tidak asli lagi, karena diubah-ubah oleh para pemuka dan pemimpin mereka

5. sebagai penutup wahyu wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi dan Rasul-Nya. sehingga dengan adanya Al-Qur'an tidak dibutuhkan wahyu lainnya.

Mengapa al quran disebut sebagai kitab penyempurna dari kitab kitab sebelumnya



karena :



1) Al-Qur'an diposisikan sebagai pembenar dan batu ujian (verifikator) bagi kitab-kitab

sebelumnya. al-qur'an surat al-maidah ayat 48



وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ



artinya : Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,



2) Al-Qur'an menjadi referensi untuk menghilangkan perselisihan pendapat antara

ummat-ummat rasul yang berbeda. al-qur'an surat an-nahl ayat 63



تَاللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَهُوَ وَلِيُّهُمُ الْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ



artinya : Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi syaitan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka syaitan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih.



di lanjutkan dengan surat an-nahl ayat 64



وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ



artinya : Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.





3) al-qur'an meluruskan sejarah



4) Al-Qur'an menuntut kepercayaan ummat Islam terhadap eksistensi kitab-kitab

tersebut. al-qur'an surat al-baqoroh ayat 4



وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ



artinya : dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.


Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/3032672#readmoreFungsi Al-quran Bagi Umat Manusia

Al-quran merupakan kitab suci umat Islam dan juga merupakan Dasar Hukum Islam dan Sumber Syariat Islam yang memiliki banyak manfaat bagi umat manusia. Al-quran diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai Rasul yang dipercaya menerima mukjizat Al-quran, Nabi Muhammad SAW menjadi penyampai, pengamal, serta penafsir pertama dari Al-Quran.(Baca : Fungsi As-sunnah Terhadap Al-Quran)

ads

Al-quran dan Pengertiannya

Bahagia Menurut Al-QuranAl-quran secara terminologi merupakan Kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi umat Islam. Al-quran diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab dan maknanya dari Allah SWT, sampai saat ini Al-quran terus dijaga keasliannya dan terus dibukukan dengan menggunakan bahasa Arab.

As-Syafi’I mengungkapkan Al-quran tidak berasal dari kata apa pun dan tidak ditulis dengan hamzah. Lafadz Al-quran menurutnya sudah lazim digunakan untuk pengertian firman Allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW. Pendapat lain dari Al Farra mengatakan bahwa Al-quran berasal dari qarain yang merupakan bentuk jamak dari qarinah yang artinya “kaitan”. Ini sesuai dengan makna dan kandungan ayat Al-quran yang berkaitan satu dengan lainnya.(Baca : Fungsi As-sunnah Terhadap Al-Quran)

Saat ini Al-quran banyak diterjemahkan ke bahasa asing seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris namun bahasa asli Al-quran yaitu bahasa Arab tetap dipertahankan untuk menjaga keasliannya. Hal ini perlu dilakukan karena setiap bahasa memiliki makna tersendiri yang kadang tak bisa langsung diterjemahkan dalam bahasa lainnya.(Baca : Fungsi Hadist terhadap Al-Quran)
Fungsi Al-Quran dalam Agama Islam

Fungsi Al-Quran dalam Kehidupan tersurat dari nama-namanya di dalam Al-quran itu sendiri. Nama lain Al-quran yang menunjukkan fungsinya sendiri antara lain:

1. Al-Huda (Petunjuk)

Di dalam Al-quran ada tiga posisi Al-quran yang fungsinya sebagai petunjuk. Al-quran menjadi petunjuk bagi manusia secara umum, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, dan petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Jadi Al-quran tidak hanya menjadi petunjuk bagi umat Islam saja tapi bagi manusia secara umum. Kandungan Al-quran memang ada yang bersifat universal seperti yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan itu bisa menjadi petunjuk bagi semua orang tidak hanya orang yang beriman Islam dan bertakwa saja.

Petunjuk bagi orang yang beriman berarti bagi orang yang memiliki iman Islam dalam dirinya yaitu yang mengakui bahwa Nabi Muhammad utusan Allah dan Allah merupakan satu-satunya Tuhan Semesta Alam. Sedangkan untuk orang yang bertakwa berarti bagi orang-orang yang benar-benar menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Beberapa kali di Al-quran dituliskan tentang kepada siapa ayat atau sebuah perintah ditujukan, apakah bagi orang yang beriman atau bagi orang-orang yang bertakwa.(Baca :Bacaan Doa Orang Teraniaya Dalam Al Qur’an)

1. Al-Furqon (Pemisah)

Nama lain Al-quran adalah Al-Furqon atau pemisah. Ini berkaitan dengan fungsi Al-quran sebagai Keajaiban Al-Qur’an di Dunia lainnya yang dapat menjadi pemisah antara yang hak dan yang batil, atau antara yang benar dan yang salah. Di dalam Al-quran dijelaskan berbagai macam hal yang termasuk kategori salah dan benar atau hak dan yang batil.(Baca : Fungsi Hadist Dalam Islam)

Jadi jika sudah belajar Al-Quran dengan benar maka seseorang seharusnya dapat membedakan antara yang benar dan yang salah. Misalnya saja saat mencari keuntungan dengan berdagang, dijelaskan bahwa tidak benar jika melakukan penipuan dengan mengurangi berat sebuah barang dagangan. Begitu juga dengan berbagai permasalahan lainnya yang bisa diambil contohnya dari ayat-ayat Al-Quran.

Baca juga :

· Mandi Wajib

· Pandangan Islam Terhadap Terorisme

· Aliran Ahmadiyah : Sesat atau Tidak ?

· Jual Beli Menurut Islam

· Aliran Syiah dalam Ilmu Kalam

1. Al-Asyifa (Obat)

Di dalam Al-quran Keajaiban Al-Qur’an di Dunia Nyata disebutkan bahwa Al-quran merupakan obat bagi penyakit yang ada di dalam dada manusia. Penyakit dalam tubuh manusia memang tak hanya berupa penyakit fisik saja tapi bisa juga penyakit mental atau psikologis, contohnya saja cara mengatasi depresi menurut islam. Perasaan manusia tidak selalu tenang, kadang merasa marah, iri, dengki, cemas, dan lain-lain.

Manfaat Membaca Al- Qur’an dan mengamalkannya dapat terhindar dari berbagai penyakit hati tersebut. Al-quran memang hanya berupa tulisan saja tapi Keutamaan Membaca Al Quran dapat memberikan pencerahan bagi setiap orang yang beriman. Saat hati seseorang terbuka dengan Al-quran maka ia dapat mengobati dirinya sendiri sehingga perasaannya menjadi lebih tenang dan bahagia dengan berada di jalan Allah.(Baca :Bahagia Menurut Al-Quran)

1. Al-Mau’izah (Nasihat)

Al-Quran juga berfungsi sebagai pembawa nasihat bagi orang-orang yang bertakwa dan juga sebagai Sumber Pokok Ajaran Islam. Di dalam Al-Quran terdapat banyak pengajaran, nasihat-nasihat, peringatan tentang kehidupan bagi orang-orang yang bertakwa, yang berjalan di jalan Allah. Nasihat yang terdapat di dalam Al-Quran biasanya berkaitan dengan sebuah peristiwa atau kejadian, yang bisa dijadikan pelajaran bagi orang-orang di masa sekarang atau masa setelahnya.(Baca : Bukti Islam Agama Damai)

Nasihat dan peringatan tersebut penting karena sebagai manusia kita sering menghadapi berbagai masalah dan cara penyelesaiannya sebaiknya diambil dari ajaran agama. Bagaimana cara kita menghadapi tetangga, suami, orang tua, dan bahkan musuh kita telah diajarkan dalam Al-Quran.(baca : Dasar Ekonomi Islam)
Fungsi Al-Quran Bagi Kehidupan Manusia

1. Sebagai petunjuk jalan yang lurus

Hidup Bahagia Menurut Islam adalah jalan yang lurus. Jalan yang lurus menurut yang mengajarkan umatnya untuk berakhlak mulia sekaligus menjalankan ibadah dengan baik. Banyak umat manusia yang kadang kebingungan harus berbuat apa lagi di dunia ini, dan tak sedikit yang kemudian terperosok ke jalan yang salah. Misalnya orang-orang yang melakukan perbuatan kriminal atau menggunakan narkoba.(Baca : Falsafah Ekonomi)

Al-quran memberikan petunjuk agar umat manusia dapat terus berjalan di jalan yang lurus. Di dalam Al-quran sudah dijelaskan mana yang salah dan yang benar, serta peringatan-peringatan agar terus bertakwa kepada Allah SWT.(Baca : Ijtihad dalam Hukum Islam)

1. Merupakan mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW

Jika nabi-nabi lainnya mendapatkan mukjizat yang terlihat jelas seperti dapat berbicara dengan binatang, menyembuhkan orang sakit, dan lainnya maka Nabi Muhammad SAW diberikan mukjizat yang sedikit berbeda yaitu Al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam. Al-Quran merupakan sumber dari segala sumber hukum dan penyempurna dari kitab-kitab yang terdahulu. Meskipun Nabi Muhammad SAW tidak dapat membaca dan menulis namun Allah menjaga Al-Quran yang diwahyukan kepada beliau.(Baca : Hukum Bacaan Al-qur’an)

1. Menjelaskan kepribadian manusia dan yang membedakannya dari makhluk lainnya

Di dalam Al-Quran disebutkan tentang manusia yang memiliki berbagai sifat baik itu sifat yang baik dan buruk. Selain itu manusia juga dikaruniai akal yang membuatnya berbeda dari binatang. Allah SWT menjadikan manusia sebagai pemimpin di dunia ini. Sebagai pemimpin manusia seharusnya dapat memiliki akhlak-akhlak yang baik bukannya malah berperilaku seperti binatang. Manfaat Baca Al-quran dan mengamalkannya akan membuat kita menjadi manusia yang bertakwa dan berakhlak mulia sertaCara Meningkatkan Iman dan Taqwa Kepada Allah SWT.(Baca : Doa agar Keinginan Tercapai)

1. Merupakan penyempurna bagi kitab-kitab Allah yang telah turun sebelumnya

Umat Islam percaya dengan adanya kitab-kitab Allah yang telah turun sebelum Al-Quran, yaitu Taurat, Injil, dan Zabur. Namun tetap Al-Quran yang wajib dipelajari karena merupakan penyempurna dan digunakan sampai akhir zaman. Kitab-kitab Allah sebelumnya ditujukan hanya pada umat pada zaman tersebut saja, berbeda dengan Al-Quran. Allah akan menjaga keaslian Al-Quran melalui para umat yang hafal Al-Quran dan mengamalkannya.(Baca : Fungsi Iman Kepada Kitab Allah)

1. Menjelaskan masalah yang pernah diperselisihkan umat sebelumnya

Al-Quran turun pada saat zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Firman yang turun tersebut akan berkaitan dengan kejadian pada saat itu. Misalnya saja perselisihan suatu kaum, atau cerita tentang kaum sebelumnya yang mendapatkan teguran dari Allah SWT.(Baca : Fungsi Iman Kepada Allah SWT)

Berdasarkan kisah umat terdahulu kita bisa belajar agar tidak mengulangi kesalahan yang mereka perbuat misalnya serakah dan berbuat buruk terhadap orang lain. Ini juga bisa berkaitan dengan kebiasaan buruk umat sebelumnya yang harus dihindari pada masa sekarang.

1. Al-Quran dapat memantapkan iman Islam

Manfaat Baca Al-quran Setiap Hari dan memahami artinya dapat membuat kita lebih mantap lagi memegang teguh ajaran Islam. Sebagai umat Islam kita kadang sering merasa iman kita menurun karena kesibukan duniawi, namun jika kita rutin dalam membaca Al-Quran serta mencoba belajar tentang isi dari Al-Quran maka kita bisa mempertebal iman kita.(Baca : Fungsi Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam)

Isi Al-Quran akan membuat kita semakin yakin bahwa agama Islam adalah agama yang memang harus kita anut. Jadi belajarlah Al-Quran jika ingin lebih memantapkan iman Islam atau jika tiba-tiba merasa ada keraguan dalam hati.

1. Tuntunan dan hukum untuk menjalani kehidupan

Al-Quran berisi tentang banyak hal termasuk tuntunan dan hukum dalam menjalani kehidupan. Manusia bisa saja membuat hukum sendiri untuk sebuah negara atau daerah namun hukum Al-Quran diturunkan dari Allah SWT yang tentunya lebih sempurna jika mampu dijadikan dasar. Tuntunan dalam Al-Quran diperuntukkan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan. Al-Quran mengatur bagaimana tentang berhubungan dengan orang lain, berdagang, warisan, zakat, dan banyak hal lain. Umat Islam yang mempelajari Al-Quran dengan baik dan mampu mengamalkannya maka hidupnya akan tertuntun rapi.

Baca juga :

· Fungsi Uang Dalam Islam

· Fungsi Hadits Sebagai Sumber Hukum Islam

· Fungsi Agama


Fungsi Al-Quran Sebagai Sumber Ilmu

Al-quran berisi ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi manusia sebagai sumber hukum, sejarah, dan lainnya. Ilmu tersebut sangat bermanfaat bagi umat manusia. Beberapa disiplin ilmu yang bersumber dari Al-quran antara lain:

1. Ilmu Tauhid

Ilmu Tauhid Islam merupakan Ilmu Kalam dalam Islam yang membahas pengokohan keyakinan dalam agama Islam sehingga dapat menghilangkan keraguan. Tauhid sendiri berarti mengesakan Allah. Tak jarang dari kalangan umat Islam sendiri sering merasa ragu terhadap agama mereka karena banyak hal. Mempelajari ilmu tauhid dapat meyakinkan kita tentang Tuhan yang Satu yaitu Allah SWT.(Baca : Ilmu Kalam dalam Islam)

1. Ilmu Hukum

Di dalam Al-quran dibahas pula hukum-hukum dalam agama Islam. Sebagai umat Islam yang baik seharusnya dapat mempelajari hukum dalam Islam, seperti hukum pernikahan, perhitungan waris, dan lain-lain. Al-quran merupakan salah satu sumber hukum Islam yang perlu terus kita pelajari sehingga kita bisa menjadi muslim yang taat dan berpengetahuan.(Baca : Hukum Menuntut Ilmu)

1. Ilmu Tasawuf

Pengertian Tasawuf adalah ilmu Tasawuf Dalam Islam untuk mengetahui cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak atau biasa disebut dengan Tasawuf Akhlaki, serta membangun dhahir dan batin sehingga Hubungan Akhlak dan Tasawuf mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Ilmu tasawuf sudah berkembang sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Kita tentu tahu tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW pergi ke Gua Hira dan banyak berdzikir. Para sufi kemudian mencontoh apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW tersebut.

Baca artikel tasawuf :

· Tasawuf Amali 

· Ilmu Tasawuf Modern

· Tasawuf Syiah

· Tasawuf Falsafi 

· Tasawuf Akhlaqi

· Tasawuf Sunni



1. Ilmu Filsafat Islam

Filsafat Islam adalah Ilmu Filsafat Islam yang memiliki Hubungan Ilmu Kalam dengan Filsafat  yang dikembangkan oleh cendekiawan muslim. Jika dalam ilmu filsafat lain kadang masih mencari-cari tentang kehadiran Tuhan namun di filsafat Islam sudah meyakini tentang keesaan Tuhan yaitu Allah SWT. Filsafat Islam lebih banyak membahas Filsafat Pendidikan Islam tentang masalah lain seperti manusia dan alam.

1. Ilmu Sejarah Islam

Sejarah Agama Islam juga banyak terdapat dalam Al-quran. Islam sendiri memiliki sejarah yang cukup panjang sejak zaman Nabi Muhammad SAW atau bahkan sejak zaman Nabi Adam diturunkan di dunia. Dalam Sejarah Peradaban Islam, agama Islam sendiri kemudian baru dikukuhkan pada saat zaman Nabi Muhammad SAW. Ada banyak rintangan dan hadangan yang ikut mengiringi perkembangan Sejarah Islam Dunia pada zaman tersebut.(Baca : Sejarah Islam di Arab Saudi)

1. Ilmu Pendidikan Islam

Ilmu Pendidikan Islam diajarkan di sekolah-sekolah agar para siswa lebih memahami tentang agama Islam yang mereka anut. Di dalam Hakikat Pendidikan Islam, Al-quran menjadi salah satu sumber utama untuk mempelajari Islam. Pendidikan Anak Dalam Islam juga menuntut agar para siswa dapat membaca Al-quran dan mengerti artinya yang nantinya dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, dan itu merupakan salah satu Tujuan Pendidikan Islam.(Baca : Hakikat Pendidikan Islam)
Al-Qur’an adalah Pedoman Hidup Manusia

Apr 17, 2015 | Aqidah, Artikel | 0 comments



Oleh: Abu Mujahidah al-Ghifari, Lc., M.E.I.

Dalam Islam, al-Qur’an adalah kitâbulloh yang suci. Makna dan huruf al-Qur’an bersumber dari Alloh subhanahu wa ta’ala. Dia menurunkan al-Qur’an kepada Rasulullah sholallohu alaihi wasallam melalui perantara malaikat Jibril a.s. dan menjadikannya sebagai mu’jizat Rasulullah sholallohu alaihi wasallam.[i] Oleh karena itu, mengimani al-Qur’an merupakan bukti keimanan dan mengingkarinya adalah kekufuran.

Alloh subhanahu wa ta’ala menjadikan al-Qur’an sebagai sumber hukum utama yang mutlak benar, petunjuk bagi hamba-hamba-Nya dan pedoman bagi seluruh ummat manusia.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

“Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Nahl [16]: 89)

Al-Bukhori meriwayatkan dari Anas ibn Mâlik bahwa Umar rodhiallohu anhu berkata, “Dan inilah kitab (al-Qur’an) yang mana Alloh ta’ala telah memberi petunjuk Rosul kalian maka ambilah niscaya kalian akan diberi petunjuk karena sesungguhnya hanya dengannya Alloh memberi petunjuk Rosul-Nya.” (HR. al-Bukhori)

Di antara konsekuensi makna al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia adalah mengikuti al-Qur’an menjadi suatu keharusan bagi seluruh manusia, dan balasan rahmat Alloh subhanahu wa ta’ala akan diberikan kepada yang mengimani al-Qur’an.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah ia dan bertakwalah agar kalian diberi rahmat.”(QS. Al-An’aam [6]: 155)

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS. Ali Imron [3]: 103)

Sa’id ibn Mansur, Ibn Abȗ Syaibah, Ibn Jarîr, Ibn al-Mundzir dan al-Suyȗti mengatakan bahwa sanadnya shahîhmeriwayatkan dari Ibn Mas’ȗd r.a. tentang firman Alloh “Berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Alloh” beliau berkata, “Tali agama Alloh adalah al-Qur’an.”

Perintah untuk mengikuti al-Qur’an mengandung konsekuensi dilarangnya berpaling dari al-Qur’an. Alloh subhanahu wa ta’ala memberi balasan tidak tersesat dan tidak celaka bagi orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Dia pun mengncaman orang yang berpaling dari petunjuk Alloh subhanahu wa ta’ala dengan kehiduopan yang sempit.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى . وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka, dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thoha [20]: 123-124)

Ibn Abi Syaibah, al-Thabrani, Abu Nu’aim dan Ibn Mardawaih meriwayatkan dari Ibn Abbas rodhiallohu anhu. bahwa Rasulullah sholallohu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengikuti kitabullah niscaya Alloh memberinya hidayah dari kesesatan di dunia dan menjaganya dari buruknya siksaan pada hari kiamat.”

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibn Abbas rodhiallohu anhu. bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya Alloh telah menjamin bagi orang yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak hidup sempit di akherat.” (HR. al-Hakim dan dishahihkan olehnya serta disepakati oleh al-Dzahabi)

Dengan demikian, maka jelaskan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan Alloh subhanahu wa ta’ala sebagai pedoman hidup yang harus diikuti isi kandungannya. Maka, pemahaman yang benar dalam menafsirkan al-Qur’an merupakan perkara mendasar dalam memastikan kebenaran dalam memahami Islam. Jika al-Qur’an dipahami tidak sebagaimana mestinya maka dipastikan keliru dalam memahami Islam. Oleh karenanya, seseorang yang diberi pemahaman yang benar tentang al-Qur’an maka dia sesungguhnya telah diberi anugerah yang banyak dari Alloh subhanahu wa ta’ala.

Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Alloh menganugerahkan al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al–Quran dan al-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakAlloh yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Alloh).” (QS. al-Baqoroh [3]: 269)



FOOTNOTE

[i] Mana’ al-Qothon berkata tentang definisi al-Qur’an: “Kalamulloh yang diturunkan kepada Muhammad sholallohu alaihi wasallam. yang membacanya adalah ibadah.” Lihat, Mabâhits Fi Ulȗm al-Qur’an, Beirut: Mu’asasah ar-Risalah, 1998, Hlm. 20.

Ibn Hajar al-Asqalâni berkata, “Yang lebih selamat dalam masalah ini adalah meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamullohbukan makhluk, ini adalah pendapat yang lebih selamat dari berbagai pendapat karena banyaknya kerancuan masalah ini dan larangan (ulama) salaf mendalami masalah tadi.” Lihat, Ibn Qudâmah, Roudah al-Nâdhir, Tahqîq Abd al-Karîm al-Namlah, Riyadh: Maktabah al-Rusyd, Jilid 1, Hlm. 266.

Definisi ini merupakan bantahan bagi kaum Liberal yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk. Di antara dalil-dalil yang secara langsung menyebut al-Qur’an adalah kalâmulloh adalah QS. al-Taubah: 6, QS. al-Baqoroh: 75 dan QS. al-Fath: 15.

A. Arti Definisi Dan Pengertian Al Qur'an

Al-Quran adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan melalui para rasul.

B. Sejarah Turunnya Al-Quran

Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dengan perantaraan malaikat jibril sebagai pengentar wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW di gua hiro pada tanggal 17 ramadhan ketika Nabi Muhammad berusia / berumur 41 tahun yaitu surat al alaq ayat 1 sampai ayat 5. Sedangkan terakhir alqu'an turun yakni pada tanggal 9 zulhijjah tahun 10 hijriah yakni surah almaidah ayat 3.

Alquran turun tidak secara sekaligus, namun sedikit demi sedikit baik beberapa ayat, langsung satu surat, potongan ayat, dan sebagainya. Turunnya ayat dan surat disesuaikan dengan kejadian yang ada atau sesuai dengan keperluan. Selain itu dengan turun sedikit demi sedikit, Nabi Muhammad SAW akan lebih mudah menghafal serta meneguhkan hati orang yang menerimanya. Lama al-quran diturunkan ke bumi adalah kurang lebih sekitar 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.

C. Pokok Ajaran Dalam Isi Kandungan AlQuran

1. Tauhid - Keimanan terhadap Allah SWT
2. Ibadah - Pengabdian terhadap Allah SWT
3. Akhlak - Sikap & perilaku terhadap Allah SWT, sesama manusia dan makhluk lain
4. Hukum - Mengatur manusia
5. Hubungan Masyarakat - Mengatur tata cara kehidupan manusia
6. Janji Dan Ancaman - Reward dan punishment bagi manusia
7. Sejarah - Teledan dari kejadian di masa lampau

Pada website organisasi.org ini juga terdapat artikel lain yang membahas mengenai isi kandungan Kitab Suci Al-quran. Silahkan anda cari melalui fitur pencarian di sebelah kiri.

D. Keistimewaan Dan Keutamaan Al-Quran Dibandingkan Dengan Kitab Lain

1. Memberi petunjuk lengkap disertai hukumnya untuk kesejahteraan manusia segala zaman, tempat dan bangsa.
2. Susunan ayat yang mengagumkan dan mempengarihi jiwa pendengarnya.
3. Dapat digunakan sebagai dasar pedoman kehidupan manusia.
4. Menghilangkan ketidakbebasan berfikir yang melemahkan daya upaya dan kreatifitas manusia (memutus rantai taqlid).
5. Memberi penjelasan ilmu pengetahuan untuk merangsang perkembangannya.
6. Memuliakan akal sebagai dasar memahami urusan manusia dan hukum-hukumnya.
7. Menghilangkan perbedaan antar manusia dari sisi kelas dan fisik serta membedakan manusia hanya dasi takwanya kepada Allah SWT.Syaja’ah merupakan salah satu sikap mulia

yang semestinya dimiliki oleh setiap orang beriman. Syaja’ah sendiri berarti

berani membela kebenaran. Syaja’ah memiliki lawan kata yang dalam bahasa arab

disebut Jubun (pengecut). Berikut kakak ulas mengenai pertanyaan yang adik

ajukan beserta pertanyaan terkait lainnya.







Apakah

makna dan contoh perilaku syaja'ah dalam kehidupan sehari-hari?





Syaja’ah memiliki makna yaitu memiliki keteguhan hati dan kekuatan pendirian

untuk membela serta mempertahankan kebenaran secara bijaksana dan terpuji

dengan niatan ikhlas lillahi ta’ala. Beberapa contoh sikap Syaja’ah dalam

kehidupan sehari-hari antara lain :





a. Berani mengkeritik pemimpin yang bersikap dzalim.





b. Senantiasa bersikap sesuai dengan ajaran agama walaupun

banyak tetangga yang tidak suka.





c. Senantiasa berkata, bertindak, dan berpikir jujur walaupun

dikecam oleh orang – orang yang dzalim.





d. Menasihati dan memberikan contoh kepada teman – teman yang

senang mencuri untuk menjadi pribadi yang bertabiat terpuji.





e. Membela teman yang di bully walaupun harus terkena

bullyian.







Apa

saja dalil atau dasar hukum dari berperilaku Syaja’ah?



وَلَا

تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ



Artinya

: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati,

padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu

orang-orang yang beriman.” ( Qs. Ali – Imran : 139 )







فَاسْتَقِمْ

كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ



Artinya

: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu

dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui

batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” ( Qs. Hud : 112 )







“Janganlah

kamu menjadi orang yang tidak punyai sikap. Bila orang melakukan kebaikan maka

aku pun melakukannya. Namun bila orang melakukan keburukan maka aku pun ikut

melakukannya juga. Akan tetapi jadilah orang yang punya sikap dan keberanian.

Jika orang melakukan kebaikan maka aku melakukannya. Namun jika orang melakukan

keburukan maka aku tinggalkan sikap buruk mereka”. (HR : Tirmidzi)







Apa

saja ciri-ciri orang yang bersifat dan berperilaku syaja’ah?





Ciri-ciri orang yang bersifat dan berperilaku syaja’ah antara lain seperti :





a. Berani memperjuangkan yang benar, dan meluruskan yang

salah.





b. Segala sesuatu yang diperbuat, ikhlas niatnya hanya karena

Allah SWT.





c. Semangatnya tak pernah kenal patah arang walaupun

senantiasa diterpa celaan, hinaan, tantangan, dsb.





d. Tidak malu mengakui kesalahannya apabila tindakan, ucapan,

maupun pemikiran yang dilakukan memang salah.





e. Senantiasa sabar dan tawakal dalam menjalankan usaha dan

menjalani ujian.



f.

Memiliki pendirian yang kuat, teguh, dan tetap.







Apa

hikmah bagi orang yang senatiasa berperilaku syaja’ah?





Orang yang senantiasa beruasha untuk bersikap syaja’ah, maka ia akan menjadi

manusia yang mencapai kemajuan, manusia yang tidak akan mudah terserang

perasaan sulit dan tidak mampu, manusia yang senantiasa kreatif dan produktif,

serta manusia yang hidupnya penuh ketentraman.







Bagaimana

cara menanamkan sikap Syaja’ah dalam diri?





Ada berbagai cara untuk menanamkan sikap syaja’ah dalam diri kita, antara lain

:





a. Berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, mentaati

perintahnya, dan menumbuhkan rasa takut terhadap Allah SWT.





b. Banyak membaca dan belajar tentang ilmu akhirat agar

menambah motivasi untuk mendapatkan Jannah-Nya dengan berbagai cara salah

satunya Syaja’ah dan menjadikan kita menganggap sebelah mata dunia yang fana

ini.





c. Mempelajari Sirah Nabawiyah agar menambah motivasi dan

pengetahuan kita betapa beratnya perjuangan Nabi – Nabi Allah dalam mensyiarkan

agamannya agar menjadi panutan kita guna menumbuhkan sikap Syaja’ah.





d. Senantiasa percaya dan yakin akan akan segala jenis

pertolongan Allah SWT yang akan diberikan kepada hambanya yang mau berdiri dan

membela di jalan-Nya.





e. Meningkatkan sikap Istiqamah, ketenangan, dan optimis akan

segala sesuatu hal.



Simak lebih lanjut di Brainly.co.id - https://brainly.co.id/tugas/12293617#readmore"Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita" (QS 9: 40)



Ali bin Abu Thalib bercerita, "Semua hijrah sembunyi-sembunyi kecuali Umar ibn Khattab. Saat hendak hijrah, dia menyandangkan busur panahnya dan mendatangi Ka'bah saat orang-orang Quraisy berada sekitar itu. Umar bertawaf tujuh kali, shalat dua rakaat, lalu mendatangi kelompok orang Quraisy satu demi satu sambil berkata, 'Wahai wajah yang muram! Barang siapa ingin ibunya kehilangan anaknya, dan anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, temuilah aku di belakang bukit itu besok pagi.' "



Pengertian



شُجَاعٌ berani, gagah secara etimologinya



Menurut istilah: keteguhan hati, kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara jantan dan terpuji.



Keberanian yang berlandaskan kebenaran, dilakukan dengan penuh pertimbangan dan perhitungan untuk mengharapkan keridhaan Allah.



Asy Syaja’ah adalah salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi’nan (ketenangan) dan at-tafaul (optimisme).



Lawan dari sifat syaja’ah adalah jubun (pengecut atau penakut). Pemberani adalah orang yang berani membela kebenaran dengan resiko apa pun dan takut untuk berbuat yang tidak benar. Sebaliknya, penakut adalah orang yang takut membela kebenaran.



Landasan Keberanian



1- Iman yang kokoh



Dalam kisah hijrah Rasullullah dan Abu Bakr ke Madinah, sesampai di gua Tsur keadaan mencekam dirasakan Abu Bakar, “Ya Rasulullah, sekiranya salah satu dari mereka melihat betisnya maka mereka pasti akan melihat kita.” Rasulullah SAW. menenangkannya dengan menyatakan, “Duhai Abu Bakar, apakah kamu mengira kita di sini cuma berdua. Tidak, Abu Bakar. Kita di sini bertiga. Janganlah takut dan gentar, Allah bersama kita.”



Sikap keberanian yang ditunjukkan Rasulullah disaat tidak ada lagi pertolongan apa-apa selain Allah, adalah pengejewantahan keimanan yang begitu kuat. Sekiranya iman lemah, mungkin akan mendatangkan kepanikan.



Kisah pembakaran Nabi Ibrahim a.s. menujukkan bahwa rasa takut manusiawi terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut syar’i yakni takut kepada Allah saja. Dan subhanallah, pertolongan Allah datang dengan perintah Nya kepada api agar menjadi dingin dan sejuk serta menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.



Diantara turunan sikap dari keimanan yang kokoh adalah berupa hanya menggantungkan harapan kepada Allah dan juga sikap tawakkal yang benar, sehingga menimbulkan sikap berani dalam diri seseorang dalam menghadapi segalam macam situasi dan tantangan.



2- Bersabar Terhadap Ketaatan



Jalan kebenaran itu pasti tidak akan mulus, gampang. Jika mulus dan gampang saja yang dialami, justru harus dipertanyakan, apakah benar dalam jalan kebenaran? Banyak tantangan, baik dari dalam diri sendiri berupa hawa nafsu, maupun godaan syaithan yang tak akan pernah berhenti sampai akhir hayat, atau godaan manusia lainnya yang ingin menjerumuskan pada kebatilan. Semua itu akan selalu dihadapi, kondisi hidup yang sedang dihadapi, semisal himpitan masalah ekonomi, musibah dan lainnya bisa jadi melunturkan semangat. Tetapi, itulah memang jalan yang harus dihadapi. Bersabar adalah kunci, mudah diucapkan tapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Sabar jugalah jalan yang ditempuh para Rasul dan Nabi, salafus shaleh. Sehingga kita pun mesti berjuang dengan penuh kesabaran untuk menjalani ketaatan kepada Allah.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (QS 3: 200)

Sikap sabar jelas bukan berarti menerima segala bentuk penindasan apalagi berkaitan dengan pelecehan nilai agama, tapi sabar justru melahirkan sikap keberanian dalam menjalani perintah Allah sekaligus berjuang dalam menegakkan kalimat Allah. Sikap keberanian di sini tidak melulu terwujud dalam bentuk kebringasan, gagah perkasa, tapi bisa jadi dalam bentuk kelembutan dan memaafkan demi kemaslahatan yang lebih besar. Layaknya suri tauladan yang sangat menyentuh oleh Rasulullah, ketika dakwah nya di tolak di Taif yang sampai pada bentuk kekerasan. Namun, keberanian Rasulullah untuk memaafkan walaupun sungguh berat waktu itu ujiannya, karena pandangan jauh ke depan, membuat azab yang bisa jadi ditimpakan pada Taif tak jadi diturunkan. Dan buah dari kesabaran tersebut terwujud dengan ber Islam nya penduduk Taif kemudian hari.



Keimanan yang kuat akan menumbuhkan kecintaan yang lebih pada akhirat dari pada kehidupan dunia.



3- Mewariskan Hal yang Terbaik



Kita dalam tanda kutip adalah produk masa lalu, hasil didikan berbagai pihak bermula mungkin orang tua, keluarga, guru, lingkungan dan seterusnya. Sehingga sedikit banyaknya karakter yang kita miliki sekarang ini adalah buah dari pendidikan orang-orang yang terdahulu. Jika pendidikan yang itu baik, akan menghasilkan generasi yang baik. Begitu juga dengan kedepannya, kita adalah bagian dari orang yang akan mewarisi generasi masa depan. Karena perjuangan dakwah adalah perjuangan sampai akhir zaman, bukan satu generasi saja. Sehingga menyiapkan generasi baru yang kuat, adalah keharusan bagi keberlangsungan dakwah.



Selain itu generasi yang kuat dan mandiri akan lebih berpeluang melahirkan karakter pemberani. Perumpamaan orang-orang yang hidup dibawah belas kasihan orang lain, atau orang yang meminta-minta, bisa jadi akan berkurang keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran terutama kepada pihak dimana dia meminta-minta atau mendapat belas kasihan.

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS 4: 9)

Nubuwah terkait penaklukan konstantinopel yang disampaikan Rasullullah menjadikan kaum muslimin pada masanya dan setelahnya berharap bisa menjadi orang yang disebutkan Rasulullah menjadi tokoh utama penakluknya atau anak keturunannya, atau mungkin menjadi bagian barisan tentaranya. Dan pada akhirnya panglima Al Fatih bersama para tentaranya yang berhasil menaklukan baru muncul berabad setelah penyampaian nubuwah tersebut. Dalam kisahnya, beliau telah dipersiapkan semenjak dini berupa penanaman karakter, akhlak ilmu dan seterusnya.



Bagaimana dengan masa kini? Janji Allah akan kembalinya kekuatan besar kaum muslimin mneguasai dunia sebelum akhir zaman, semoga memotivasi kita untuk mempersiapkan generasi penerus yang semoga menjadi bagian menuju kebangkitan umat Islam, walaupun mungkin tidak hidup dimasa kejayaan tersebut nantinya.



Bentuk-bentuk Asy Syaja’ah



1- Keberanian menghadapi musuh dalam peperangan di jalan Allah (jihad fii sabililah)



Banyak sekali kisah tauladan pada para sahabat generasi pertama umat Islam dapat diambil, mereka tidak takut akan mati, tidak cinta dunia, lebih mencintai kehidupan akhirat. Sehingga ketika perintah jihad datang, disambut dengan semangat tinggi.



“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barang siapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. al-Anfal [8]: 15-16).



2- Berani menegakkan kebenaran



Mengatakan yang benar dengan terus terang memang sesuatu yang pahit bila dilihat dari sisi dampak yang bakal muncul. Namun bila dilihat dari sisi manfaat dan izzah keimanan ia menjadi sebuah keharusan. Sebagaimana sabda Nabi saw melalui Hadits Riwayat Ibnu Hibban. ‘Qulil haq walau kaana muuran ’ (katakan yang benar meskipun itu pahit) dan berkata benar di hadapan penguasa yang zhalim adalah juga salah satu bentuk jihad bil lisan. Jelas saja dibutuhkan keberanian menanggung segala risiko bila kita senantiasa berterus terang dalam kebenaran.



"Jihad yang paling afdhal adalah memperjuangkan keadilan di hadapan penguasa yang zhalim”. (Hadits Riwayat Abu Daud Dan Tirmidzi)



3- Memiliki Daya Tahan Yang Besar



Memiliki daya tahan yang besar untuk menghadapi kesulitan, penderitaan dan mungkin saja bahaya dan penyiksaan karena ia berada di jalan Allah.



Banyak suri tauladan dalam sejarah perjuangan penyebaran dan penegakan Islam. Di masa-masa awal penyebaran Islam dalam fase Makkah, begitu besar sekali bentuk cobaan yang dirasakan kaum muslimin. Kekuatan yang belum seberapa saat itu, masih dalam rintisan awal-awal dakwah, harus dihadapi berbagai bentuk perlawanan, permusuhan, makar. Boikot ekonomi, siksaan terhadap individu bahkan pembunuhan. Secara umum kaum muslimin sungguh menderita waktu itu.



Sahabat Bilal menunjukkan sikap ketahanan ini, daya tahan yang begitu besar dalam menghadapi siksaan pemuka kaum Quraisy. Dan juga Keberanian mempertahankan aqidah hingga mati nampak pada Sumayyah, ibunda Ammar bin Yasir. Beliau menjadi syahidah pertama dalam Islam yang menumbuh suburkan perjuangan dengan darahnya yang mulia.



4- Kemampuan Menjaga Rahasia



Merupakan kemampuan berani bertanggung jawab dan amanah, karena menyimpan rahasia bukanlah hal yang mudah. Menjaga rahasia adalah perkara yang sangat penting, apakah untuk menjaga kehormatan seseorang atau bahkan sampai untuk menjaga keberlangsungan dakwah.



Tidak semua orang tentunya bisa memiliki karakter ini, bahkan selevel sahabat pun hanya segelintir orang yang mendapat kepercayaan dari Rasulullah untuk menyimpan rahasia. Adalah Huzaifah ibnul Yaman r.a. seorang sahabat Nabi yang dikenal dengan sebutan shahibus sirri. Dia dapat menyimpan rahasia dengan baik. Hingga tidak diketahui yang lain akan tugas dan tanggung jawabnya menjaga rahasia. Dia berani menghadapi konsekuensinya sekalipun terasa amat berat. Akan tetapi yang membuat gentar dirinya adalah bila tertangkap musuh. Sebagaimana yang pernah ia ungkapkan pada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, saya tidak takut bila harus mati, akan tetapi yang aku takutkan adalah bila aku tertangkap.”



5- Mengendalikan Nafsu



Nafsu adalah bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia. Nafsu tidak dapat dihilangkan tapi dapat dikendalikan.



“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. 12: 53).



Diantara bentuk nafsu adalah amarah. Allah menyebutkan dalam Alqur’an bahwasanya salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain .



“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang yang berinfak baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”(QS. 3:133-134).



“Bukanlah dinamakan pemberani itu orang yang kuat bergulat, sesungguhnya pemberani itu ialah orang yang sanggup menguasai dirinya di waktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)



Sayyidina Ali ketika dalam peperangan, diludahi oleh musuh beliau, bukannya malah emosi, justru beliau menghentikan tebasan pedang yang siap untuk menebas musuh tersebut, karena Ali takut kepada Allah sekiranya sikapnya justru dilandasi oleh amarah terhadap sikap musuh bukan karena mengharapkan keridaan Allah.



6- Mengakui Kesalahan



Mengakui kesalahan bukanlah perkara gampang, butuh keberanian untuk betul-betul merasakan sendiri sambil mencari cara untuk memperbaikinya, bukan justru mengelakkannya apalagi menuduhkan kesalahan diri sendiri pada orang lain. Dan apabila berkaitan dengan pihak lain, tidak ragu, takut atau merasa hina untuk meminta maaf, dan bersedia bertanggung jawab.



Allah telah memberikan pelajaran berharga kepada umat manusia, melalui perjalanan hidup Nabi Adam. Semua manusia berpotensi berbuat kesalahan, namun rahmat pengampunan Allah sungguh besar, senantiasa terbuka sebelum ajal menjemput.



“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS 7: 23)



Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri adalah seorang ulama di jaman Khalifah Harun Al Rasyid. Alkisah pada suatu hari Khalifah sedang melaksanakan ibadah haji, sebagaimana lazimnya penguasa yang ada sekarang, seluruh tempat yang akan dilaluinya tertutup untuk untuk umum. Pada saat Khalifah melakukan sa'i antara bukit Marwah dan Shofa seorang diri, sambil disaksikan, ribuan jamaah haji, berangkatlah Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri ke tempat sa'i. Sesampainya di Shofa, kebetulan Khalifah baru saja tiba di sana. Berteriaklahlah beliau, "Haruuuun...!", tanpa menyebut embel-embel kekhalifahan. Mendengar jeritan tadi, seluruh jamaah termasuk Khalifah terkejut melihat ke arah datangnya suara. Melihat wajah yang memanggil, menjawablah beliau, "Labbaika ya 'amm".



"Naiklah ke bukit Shofa! Lihatlah ke Ka'bah, berapakah jumlah manusia di sana ?". "Tidak ada yang dapat menghitungnya kecuali Allah", jawab Khalifah. "Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan dimintai pertanggung-jawabannya nanti di hadapan Allah, dan kamu akan diminta pertanggung-jawabanmu oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu. Lihatlah kepada dirimu, apakah pantas engkau perlakukan ummat seperti ini ?". Mendengar ucapan Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri tersebut, menangislah Khalifah seraya mengakui kesalahan yang beliau lakukan. [5] Sikap Abdullah bin Abdul Aziz Al-Amri juga mencerminkan point nomor 2, berterus terang dalam kebenaran, meskipun harus disampaikan pada seseorang yang berposisi khalifah sekalipun.



7- Bersikap Obyektif Pada Diri Sendiri



Mengukur diri, memahami bahwa diri memiliki kekurangan dan kelebihan. Kekurangan untuk diperbaiki semaksimal mungkin dan kelebihan untuk dioptimalkan sebaik mungkin. Jangan terlalu berlebihan memandang diri yang mungkin bisa berakhir pada keangkuhan dan kesombongan. Umar bin Abdul Aziz seorang khalifah yang sangat mashur, bahkan ada sebutan bahwasanya beliau adalah khulafaur rasyidin yang ke-5, memberikan contoh saat berpidato dihadapan rakyatnya: “Aku bukanlah orang yang paling baik dari kalian. Aku hanyalah manusia seperti kalian akan tetapi aku mendapatkan amanah yang amat besar melebihi kalian. Karena itu bantulah diriku dalam menunaikan amanah ini.”






Episode lainnya:
Komentar:

ok